GAM Dituding Nodai MoU Damai
Jumat, 19 Agu 2005 11:32 WIB
Jakarta - Perjanjian damai antara pemerintah RI-GAM yang telah ditandatangani di Helsinki 15 Agustus lalu tak mudah diterapkan di lapangan. Peristiwa penculikan, pungutan pajak Nangroe dan pembunuhan, masih terjadi.Peristiwa yang menodai kesepakatan damai ini terjadi di Lhok Sukon. Sjarifuddin Jamil, warga Desa Alue Mudin, Kecamatan Lhok Sukon, Aceh Utara, ditemukan tewas dibunuh di Desa Blang Kolam, Rabu (17/8/2005). Sebelumnya, ia diculik selama 7 hari oleh gerombolan bersenjata yang diduga GAM. Para penculik meminta pajak Nangroe dan sejumlah uang tebusan sebesar Rp 25 juta. Karena pihak keluarga tidak dapat memenuhi akhirnya korban dibunuh."Saat korban ditemukan saya langsung ke rumah korban dan bertemu dengan saksi Ilyas Bakar. Korban dibunuh setelah tidak dapat memenuhi uang tebusan Rp 25 juta yang diminta GAM sebagai syarat pembebasan," kata Komandan Satgas Info Koopslihkam Letkol CAJ Eri Sutiko saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Jumat (19/8/2005).Keterangan Eri, peristiwa penculikan dan pembunuhan berawal dari kepergian korban bersama saksi Ilyas Bakar ke kebun durian milik korban di Blang Kolam, Desa Alue Sagowing, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara pada 10 Agustus silam sekitar pukul 10.00 WIB. Saat korban melakukan salat ashar, saksi Ilyas dihampiri delapan orang bersenjata laras panjang yang diduga sebagai anggota GAM. Dalam perbincangan dengan delapan orang bersenjata itu, menurut saksi, korban dimintai uang pajak Nangroe sebesar Rp 25 juta, namun pihak keluarga hanya mampu memenuhi permintaan GAM sebesar Rp 5 juta. "Karena permintaan tak dapat dipenuhi, korban dibawa ke hutan," tambah Eri.Dengan adanya peristiwa ini, Eri menilai, telah terjadi pengkhianatan terhadap MoU yang ditandatangani di Helsinki. Untuk itu, Eri meminta kepada mereka yang mengaku panglima-panglima wilayah untuk mematuhi kesepakatan damai. "Kami, TNI sudah komit untuk mematuhi, tetapi kenapa mereka masih melakukan ini," kata Eri.Atas peristiwa ini, Eri mengatakan sudah melaporkan ke pihak Aceh Monitoring Mission (AMM). "Kita belum tahu tindak lanjutnya, kita tunggu sikap AMM atas laporan ini," ujar Eri menambahkan.
(jon/)











































