DetikNews
Rabu 10 Oktober 2018, 10:58 WIB

Cerita Hamengkubuwono X Jalankan Peran Sebagai Sultan dan Gubernur

Tia Reisha - detikNews
Cerita Hamengkubuwono X Jalankan Peran Sebagai Sultan dan Gubernur Foto: Dok APPSI
Jakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X menceritakan perannya dalam menjalani kepemimpinan sebagai kepala daerah dan sultan di saat yang bersamaan. Pihaknya menceritakan peran sebagai sultan dan gubernur justru membuatnya tidak berjarak dengan rakyat.

"Kadang saya bingung dalam menjalankan peran sebagai sultan. Kalau rakyat ingin bertemu maka saya harus menemui tapi sebagai gubernur ada protokoler yang membatasi. Untuk urusan teknis juga langsung diserahkan pihak atau dinas terkait tapi kalau sebagai sultan tak memandang urusannya apa, sultan harus menemui rakyatnya," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Rabu (10/10/2018).


Ia juga menyampaikan kepada Tim Ekspedisi dari Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) pada Selasa (9/10) di kantornya bahwa sebagai sultan ia sering menasehati bawahannya, baik kepala dinas maupun forkopimda agar bisa dengan mudah ditemui oleh rakyat.

"Saya sering nasehati forkopimda dan kepala dinas agar mudah ditemui rakyat. Lha wong ketemu dengan sultan atau gubernur saja bisa, kenapa dengan forkopimda atau kepala dinas susah," ujar Hamengkubuwono X.

Menurutnya, masyarakat butuh dihargai dengan didengar dan dekat dengan pemimpinnya sehingga ketika sedang turun ke lapangan ia sering melepas tanda jabatan sebagai gubernur agar tidak berjarak dengan rakyat.

Kemudian terkait keistimewaan Yogyakarta, ia menegaskan bahwa di Yogyakarta tidak ada monarki. Namun yang ada ialah keistimewaan yang merupakan amanat konstitusi.

"Di DIY tidak ada monarki. Dalam UU yang ada adalah sultan dan Pakualam yang bertahta sebagai kepala daerah. Dan saya hanya raja ketika berada di rumah, di Kraton. Selebihnya saya kepala daerah seperti biasanya," ungkap Hamengkubuwono X yang akrab disapa Ngarso Dalem.

Ia pun mengungkapkan meski tidak ada pemilihan kepala daerah untuk gubernur, namun Indeks Demokrasi di Yogyakarta cukup tinggi.

"Indeks Demokrasi di Yogja termasuk tinggi. Kok bisa padahal tidak ada pilkada atau pemilihan gubernur? Artinya proses demokrasi dalam kaitannya partisipasi rakyat terutama kebebasan sipil sangat baik di Yogja," tegas Hamengkubuwono X.


Ia juga menegaskan bahwa keistimewaan Yogyakarta dengan menjaga tradisi yang ada tidak menghambat adanya proses modernisasi. Sebab keduanya bisa saling berharmoni.

"Modernisasi itu ada dalam pikiran dan bisa selaras dengan adat dan tradisi. Keduanya bisa saling selaras dan harmoni dan tidak ada tradisi yang usang. Pola pikir boleh mengikuti jaman tapi tradisi membantu kita menjaga integritas. Dan tradisi sebagai identitas berbangsa itu harus dijamin konstitusi," pungkas Hamengkubuwono X.

Informasi lebih lanjut tentang Ekspedisi APPSI bisa dilihat di sini.


Simak Juga 'Hamengkubuwono X dan Pakualam X Resmi Jadi Gubernur-Wagub DIY':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed