Kenapa Banyak WNI Sangat Ingin ke Yaman yang Sedang Perang?

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 09 Okt 2018 22:00 WIB
Ketua PPI Yaman, Izzuddin Mufian Munawwar. (Dok Pribadi Izzuddin)
Jakarta - Yaman sedang dikecamuk perang. Koalisi Arab Saudi masih belum menunjukkan tanda berhenti menggempur kaum Syiah Houthi di negara itu. Namun kondisi itu tak menyurutkan keinginan ratusan orang Indonesia untuk ke menuntut ilmu ke Yaman.

Mau belajar apa sih di Yaman? Mau belajar bikin bom ya? Kamu ekstremis model ISIS ya? Atau Al Qaeda?

Pertanyaan sinis semacam itulah yang sering didengar salah satu pelajar Indonesia di Yaman, Izzuddin Mufian Munawwar. Dia juga merupakan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman.


"Karena pengaruh pemberitaan yang selama ini tidak sesuai fakta, kami kena getahnya. Bahkan dulu ada teman saya bilang, 'Ngapain ke Yaman? Mau belajar buat bom?'," kata Izzuddin yang sedang menempuh pendidikan S2 jurusan Fiqh wal Ushul ini.

Kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di Yaman kuliah di Universitas Al Ahgaff, Universitas Imam Syafii, dan Unviersitas Wasathiyyah. Kebanyakan dari pelajar Indonesia di sini mengambil jurusan syariah (hukum Islam). Ada pula yang menjadi santri di Darul Mustafa, Rubat Tarim, dan lain sebagainya.

Semuanya tempat belajar itu ada di Provinsi Hadramaut, Yaman bagian selatan. Di Hadramaut, kondisi dinyatakan mereka aman dari peperangan. Jadi, Izzuddin tidak merasa khawatir dengan bahaya keamanan.


"Sama sekali tidak lewat (peperangannya), daerah konflik itu jauh di Yaman Utara. Hampir dua hari satu malam perjalanan antara Hadramaut ke daerah konflik," ujar Izzuddin yang juga menempuh pendidikan S1 di Yaman.

Dia merasa lebih aman keluar malam hari di Yaman ketimbang di Indonesia. Sepeda motor di Hadramaut bahkan bisa ditaruh di depan apartemen semalaman tanpa dikunci dan tidak hilang dicuri orang. Begitulah kata dia.

"Kalau tidak aman, saya tidak mungkin mau bertahan di sini tujuh tahun," lanjutnya.


Tentu saja kebanyakan orang mempersepsikan Yaman sebagai kawasan berbahaya. Dia paham, banyak orang di Tanah Airnya tidak paham tentang alasan pelajar-pelajar mendatangi kawasan berbahaya seperti Yaman. Namun itu tak menyurutkan niat dia dan banyak orang Indonesia lainnya mendatangi Hadramaut, Yaman.

Ada alasan historis-religius yang mendasari orang-orang Indonesia untuk pergi menuntut ilmu sampai Hadramaut. Pertama, Hadramaut dipandang sebagai tempat asal orang-orang saleh. Dia mengibaratkan belajar di Hadramaut merupakan upaya kembali ke akar, menelusuri ajaran para pendahulu di bidang Agama Islam.

"Wali Songo merupakan habaib keturunan Rasulullah yang berasal dari Hadramaut, Yaman, dan merupakan asal tempat dai-dai yang menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara dan India. Setiap orang yang berziarah ke Hadramaut pasti kaget akan banyaknya kesamaan antara Yaman dan Indonesia dalam hal mazhab dan tasawuf," tuturnya.


Karena ilmu Islam yang didapat di Hadramaut punya kesamaan karakter dengan yang praktik Islam yang hidup di Indonesia, maka penerapan ilmu yang mereka timba di Hadramaut bisa diterapkan dengan baik di Tanah Air. Selain itu, ada pula alasan keimanan yang menguatkan mereka untuk ke Yaman.

"Dan juga karena Rasulullah sendiri mengatakan 'iman itu ada di Yaman, fikih (ilmu tentang hukum Islam) itu ada di Yaman', dan terbukti sampai hari ini," kata dia.

Menurut keterangan pihak Kementerian Luar Negeri RI, negara-negara di dunia mengkategorikan Yaman secara keseluruhan sebagai kawasan konflik. Ada kawasan-kawasan tertentu yang menjadi pusat konflik, yakni Sanaa, Hudaida, dan Aden. Ada juga Al Mukalla, yang paling dekat dengan Kota Tarim, Provinsi Hadramaut. Hadramaut disebut sebagai tujuan ratusan orang Indonesia itu. Al Mukalla dan Tarim Hadramaut berjarak 269 km. Meski daerah Tarim Hadramaut tak ada konflik, namun Al Mukalla diduga sebagai basisnya Al-Qaeda yang ada di Yaman.


Ketua PPI Hadramaut, Yudha Pranata, mengatakan Kota Tarim Hadramaut tidak terimbas peperangan Yaman. "Wilayah Hadramaut khususnya Kota Tarim tempat kami belajar dan menimba ilmu amat sangat aman dan kondusif," kata Yudha, dihubungi terpisah oleh detikcom.

Lalu bagaimana dengan persepsi yang menengarai ada pengaruh paham kekerasan ke diri orang-orang Indonesia? Izuddin menyebut tak ada lulusan pendidikan Hadramaut yang menjadi pelaku paham kekerasan, mengebom sana-sini, atau melakukan tindakan keji lainnya.

"Saat ini guru kami Habib Umar bin Hafidz dan Habib Abdullah Baharun sedang safari dakwa di Indonesia. Jika keluar dari beliau-beliau ajaran ekstremisme, maka saya sendiri yang akan mengajak semua pelajar untuk pulang," kata Izzuddin.


(dnu/tor)