DetikNews
Selasa 09 Oktober 2018, 14:05 WIB

Topeng Barong Bali yang Mendunia Hadir di Indonesia Pavilion

Muhammad Idris - detikNews
Topeng Barong Bali yang Mendunia Hadir di Indonesia Pavilion Foto: Dok BNI
Nusa Dua - Duduk bersila di atas tikar anyaman pandan, Cok Raka Bawa dengan telaten memahat balok kayu yang dipegangnya. Tangannya dengan cekatan menyisir permukaan kayu pule yang sudah tampak bentuknya. Seniman kayu ini nampak tak begitu menghiraukan banyaknya pengunjung Indonesia Pavilion yang masih satu area dengan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali.

"Karena untuk mengerjakan ini butuh ketelitian, prosesnya memang sangat lama. Untuk menyelesaikan satu topeng Barong bisa memakan waktu tiga bulan karena ada detail-detail yang susah selain di pahatan," ucap Cok Raka ditemui di booth yang disulap jadi workshop usaha kerajinannya, Selasa (9/10/2018).

Menekuni usaha pembuatan topeng Barong sejak tahun 1999, hasil kerajinannya sudah cukup dikenal di Pulau Dewata. Topeng barongnya juga sudah acapkali dikirim ke luar negeri untuk para kolektor dan pecinta barang seni dari Bali.

"Kebetulan saya juga punya sanggar, sekaligus jadi penari Barong. Setiap barong punya karakter masing-masing dan sesuai dengan penggunaan untuk tarian Bali, seperti Barong untuk raja, rakyat, karakter Barong kucing, babi, sapi, lembu, setan, dan karakter lain," ujar Cok Raka.


Pelatih tari Barong dari Desa Batubulan, Kecamatan Sukowati, Kabupaten Ginayar ini menuturkan, pembuatan topeng Barong tak bisa sembarangan. Untuk menyelesaikan satu topeng, dirinya membutuhkan waktu setidaknya selama sekitar 3 bulan, mulai dari pemahatan, pengecatan, dan penyelesaian aksosoris yang melekat pada barong.

Sementara untuk bahan baku kayu yang digunakan antara lain kayu pule, mangga, nangka, cempaka, dan jati. Mengingatnya rumit dan lamanya pengerjaan, Cok Raka hanya akan membuat topeng Barong sesuai dengan jumlah pesanan yang datang.

"Satu Barong bisa dikerjakan 6 orang, bisa makan waktu 3 bulan. Karena tidak hanya memahat saja, ada aksesoris yang pengerjaannya sangat rumit. Untuk membuat ketu (hiasan kepala Barong) perlu beberapa aksesoris khusus dengan teknik pewarnaan yang rumit. Ada yang harus menggunakan emas 24 karat untuk lapisannya," kata dia.

Diungkapkan seniman berusia 56 tahun ini, selain dicari untuk penari-penari Bali, topeng Barong juga banyak diburu kolektor baran seni dari sejumlah negara. Dengan tingkat pengerjaan yang rumit, wajar jika satu topeng Barong lengkap dengan aksesorisnya bisa dijual dengan harga Rp 150 juta. Sementara topeng tanpa aksesoris dibanderol dari mulai Rp 15 juta.

"Meski mahal, namanya barang seni, tetap banyak yang cari. Sering orang (pemilik toko barang antik) pesan terus, barangnya selalu laku. Orang asing paling banyak yang cari topeng barong itu Eropa dan Jepang, kebanyakan buat koleksi barang seni," tutur Cok Raka.

Di Indonesia Pavilion, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Kominfo dan Kementerian Keuangan mencoba menampilkan banyak hal menarik tentang Indonesia dari segi pembangunan, bisnis, proyek-proyek strategis nasional, wisata hingga kekayaan seni budaya serta kerajinan tangan khas Indonesia termasuk khas Bali dengan pesan 'Rediscover Indonesia'.

Kesenian Pulau Bali identik hasil karya tradisional yang mendunia dan tak lekang oleh waktu walau zaman semakin modern. Ketika sebagian budaya Indonesia mulai tergerus oleh gaya hidup dari negara luar, Bali dan segala isinya seolah tetap utuh dengan tetap menyesuaikan dengan perkembangan yang ada.


Topeng Bali secara garis besar terbagi menjadi dua yakni topeng yang disakralkan dan topeng yang dijadikan sebagai hiasan. Proses pembuatan topeng yang disakralkan mencakup upacara-upacara adat dari proses penebangan pohonnya hingga selesai menjadi sebuah topeng. Topeng yang disakralkan tidak diperjualbelikan dan hanya digunakan dalam upacara adat dan tarian.

Lain halnya dengan topeng Bali yang disakralkan, Topeng Bali yang diperjualbelikan memiliki nilai ekonomis yang dapat membantu meningkatkan taraf hidup pengrajinnya dan mempromosikan budaya Bali bahkan sampai ke mancanegara.

"Kalau order sih banyak, bahkan kadang saya yang kewalahan dengan jumlah pesanan. Saya merasa lebih dari bangga untuk bisa dilibatkan dalam Paviliun Indonesia. Saya berharap hasil karya saya dan juga budaya Indonesia dapat terus dilestarikan," tutup Cok Raka.

Baca juga informasi mengenai Indonesia Pavilion IMF-WB selengkapnya di sini.
(idr/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed