Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR, Zainut Tauhid Sa'adi menyampaikan wayang kulit merupakan seni budaya yang populer bagi masyarakat Jawa.
"Ini merupakan salah satu metode sosialisasi," ujar anggota Fraksi PPP di MPR dalam keterangan tertulis (8/10/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan kali ini digelar lakon Bawor Dadi Ratu yang biasa dibawakan dalam pertunjukan wayang kulit bagi masyarakat Banyumas.
Lakon ini berkisah Bagong dalam sebuah masa menjadi raja dan ceritanya mirip 'Petruk Dadi Ratu' yang sangat popular. Pertunjukan wayang kulit malam itu terselenggara berkat kerja sama MPR dengan pemerintah kabupaten setempat.
Selain melalui wayang, sosialisasi empat pilar juga dilakukan dengan metode lain, seperti lewat lomba cerdas cermat, seminar, diskusi, outbond, debat konstitusi, dan focus of group discussion (FGD). Meski demikian sosialisasi lewat seni budaya yang lain juga dilakukan.
"Disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat. Sehingga pementasan seni budaya yang dilakukan oleh MPR beragam seperti Bhinneka Tunggal Ika," imbuhnya.
Zainut mengatakan yang paling penting, pentas seni budaya apapun bentuk dan asalnya tak sekadar menjadi tontotan namun juga harus bisa menjadi tuntunan.
"Selanjutnya diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian," ujar Zainut yang juga menjabat Wakil Ketua Umum MUI.
Di hadapan warga desa, Zainut mengatakan Indonesia adalah bangsa yang besar. Untuk itu kebesaran bangsa ini harus dirawat dan dijaga.
"Kalau bukan kita siapa lagi," tambahnya.
Menurut pria kelahiran Jepara Jawa Tengah itu, salah satu kiat untuk menjaga Indonesia adalah dengan mengingat dan mengamalkan Pancasila. Dari sinilah maka MPR melakukan sosialisasi hingga wilayah desa.
"Sambil nonton wayang kulit, mari kita laksanakan nilai-nilai Pancasila," tegas Zainut.
Sebagai tanda resmi sosialisasi dan pagelaran wayang kulit dimulai, dalam kesempatan itu Zainut menyerahkan sosok lakon kepada dalang Ki Gandhik Wayah Soegino.
Sementara Kepala Biro Keuangan Sekretariat Jenderal MPR Maifrizal dalam sambutan mengatakan MPR sudah menyelenggarakan pagelaran wayang kulit sejak tahun 2005.
"Selain untuk Sosialisasi Empat Pilar juga untuk memberi apresiasi dan ikut melestarikan seni budaya daerah," tutur Maifrizal.
Dengan pagelaran seni budaya, menurut pria yang biasa dipanggil Datuk ini, MPR telah melakukan dua hal yaitu Sosialisasi Empat Pilar dan mendukung pelestarian seni budaya nusantara.
"MPR ikut melestarikan dan menjaga budaya leluhur," papar Datuk.
Di lain pihak, Kepala Desa Wanatirta Maskur Ahmad Sunu mengatakan daya tarik pertunjukan wayang itu juga karena sang dalang. Ki Gandhik Wayah Seogino, yang merupakan dalang yang populer.
(mul/ega)











































