5 Pidato Keras Prabowo, dari 'RI Bubar 2030' sampai Kasus Ratna

ADVERTISEMENT

5 Pidato Keras Prabowo, dari 'RI Bubar 2030' sampai Kasus Ratna

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Senin, 08 Okt 2018 13:23 WIB
Prabowo berbandana merah usai pendaftaran capres sambil berorasi. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto mengaku diminta untuk tidak berpidato keras. Prabowo menyebut sosok yang meminta dirinya tak keras sebenarnya pendukungnya.

"Ada yang sengaja datang ke saya memberi saran, 'Pak Prabowo kalau pidato jangan keras-keras', dan dia orang baik dia pendukung saya jadi saya bicara itu yang sejuk, pelan-pelan," ungkap Prabowo saat menghadiri acara tasyakuran Ponpes di Jalan Sukabumi-Cianjur KM 10 Sukalarang, Minggu (7/10/2018).



Namun Gerindra menuding kubu rivalnya-lah yang meminta Prabowo tak terlalu keras dalam pidatonya. Namun menurut elite Gerindra itu, pihaknya akan terus mengkritisi pemerintah.

"Kubu sebelah pasti yang minta, ada seseorang yang lobi Pak Prabowo tidak keras-keras. Sekarang juga Pak Prabowo jangan bicara ekonomi. Jangan bicara soal ketampanan," kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade saat dihubungi, Minggu malam.

Prabowo memang kerap melontarkan kritikan tajam ke pemerintah. Materi pidatonya itu sering disampaikan dengan gaya berapi-api.

detikcom merangkum beberapa lontaran keras Prabowo. Setidaknya ada 5 pernyataan 'keras' Prabowo selama 2018 ini.

Berikut 5 pernyataan 'keras' Prabowo yang telah dirangkum detikcom:

1. Prabowo Sebut 'Ramalan' Indonesia Bubar 2030

Prabowo pernah berpidato yang menyebut adanya ramalan Indonesia bubar di tahun 2030. Belakangan diketahui sumber materi pidato Prabowo adalah novel berjudul 'Ghost Fleet'.

Rekaman pidato itu diunggah di akun Facebook Partai Gerindra pada Maret 2018. Tak tertulis detail kapan pidato itu disampaikan, namun di video itu terlihat deretan bendera Gerindra dipasang.

Berikut kutipan potongan pidato Prabowo dalam video berdurasi 1 menit 13 detik yang diunggah Gerindra tersebut:

Saudara-saudara!

Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.

Bung!
Mereka ramalkan kita ini bubar, elit kita ini merasa bahwa 80 persen tanah seluruh negara dikuasai 1 persen rakyat kita, nggak apa-apa.

Bahwa hampir seluruh aset dikuasai 1 persen, nggak apa-apa.

Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri tidak tinggal di Indonesia, tidak apa-apa.

Ini yang merusak bangsa kita, saudara-saudara sekalian!

Semakin pintar, semakin tinggi kedudukan, semakin curang! Semakin culas!Semakin maling!

Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi.

2. Prabowo Sebut Anggaran LRT Di-Mark Up

Pembangunan Light Rail Transit (LRT) juga jadi sorotan Prabowo Subianto. Dia bahkan pernah menyebut ada mark up dalam anggaran pembangunan LRT.

Berdasarkan riset indeks pembangunan LRT di dunia yang dikutip Prabowo, biaya pembangunan untuk LRT hanya berkisar USD 8 juta/km. Sedangkan di Palembang, yang memiliki panjang lintasan 23,4 km, biayanya hampir Rp 12,5 triliun atau USD 40 juta/km.

"Coba bayangkan saja berapa mark up yang dilakukan pemerintah untuk 1 km pembangunan LRT. Jika 8 juta dolar itu saja udah mendapatkan untung, apalagi kalau 40 juta dolar," kata Prabowo saat sambutan dalam acara silaturahmi kader di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Kamis (21/6/2018).

Pernyataan Prabowo kemudian dipertanyakan oleh Kepala Proyek LRT Palembang Mashudi Jauhar. Pihak Kemenhub kemudian juga memberikan penjelasan.

3. Prabowo Ungkap Utang Pemerintah-BUMN-Lembaga Rp 9.000 T

Soal utang juga sering diselipkan Prabowo dalam pidatonya. Prabowo bahkan pernah menyebut utang pemerintah, BUMN, hingga lembaga negara mencapai Rp 9.000 triliun.

"Utang pemerintah memang Rp 4.060 triliun, tapi ada utang BUMN ditambah Rp 600 triliun. Ditambah lagi utang lembaga keuangan publik, Rp 3.850 triliun. Kalau kita jumlahkan ya hampir Rp 9.000 triliun," ucap Prabowo di Jl Widya Chandra IV, Jakarta, Senin (25/6/2018). Pernyataan 'berbahaya' itu disampaikan Prabowo dengan mengutip data lembaga Moody's yang jadi sumber rujukan berita Bloomberg.

Prabowo mengaku berdiskusi dengan ahli-ahli terkait utang negara. Menurutnya, ini akan bahaya jika grafik utang negara condong ke satu bentuk.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT