DetikNews
Senin 08 Oktober 2018, 04:02 WIB

Kemenpar Jelaskan soal Usulan Patung Manekin Jokowi di Atambua

Jabbar Ramdhani - detikNews
Kemenpar Jelaskan soal Usulan Patung Manekin Jokowi di Atambua Suasana penyerahan pusaka Indonesia-Timor Leste di Jembatan Air Mata yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste, Atambua, Nusa Tenggara Timur. Foto diambil beberapa waktu lalu (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Ada sebuah monumen kecil di perbatasan RI-Timor Leste berupa susunan batu dengan tempat duduk. Monumen itu ada di bawah asam rindang yang diberi nama Pohon Asam Jokowi.

Monumen ini ada di Desa Tulakadi, Belu, Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Monumen ini dibuat masyarakat bersama TNI untuk menghormati dan mengenang kehadiran Presiden Joko Widodo yang bercengkrama dengan warga di bawah pohon tersebut usai meninjau Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain pada 20 Desember 2014 lalu.

Warga juga berkeinginan untuk membangun sebuah patung gambar Presiden Jokowi. Ide ini disambut Kementerian Pariwisata (Kemenpar).


"Keinginan membuat gambar patung itu kemudian disampaikan kembali ke Menteri Pariwisata Arief Yahya yang melakukan kunjungan kerja ke Atambua, Kamis dan Jumat lalu," ujar Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti lewat keterangan tertulisnya, Minggu (7/10/2018).

Soal ide patung gambar Jokowi, Arief Yahya mengatakan bisa saja dibuatkan patung manekin seperti yang ada di beberapa terminal bandara yang banyak dijadikan masyarakat spot foto. Setelah berkunjung ke Atambua, Arief mengatakan akan memperkuat pariwisata perbatasan (cross border tourism).

"Kita ingin jadikan Atambua sebagai destinasi utama cross border tourism setelah Kepri (Kepulauan Riau)," ujar Menpar Arief Yahya.

Dia mengatakan, seperti daerah lain di Indonesia, Atambua punya ragam keindahan alam serta kekuatan budaya yang bisa menjadi daya tarik. Tari Likurai yang sudah mendunia usai dipentaskan di upacara pembukaan Asian Games 2018 atau Kain Tenun NTT yang indah ialah beberapa produk budaya yang bisa menarik pengunjung.


"Tapi tampilannya harus dikurasi dengan baik, caranya adalah dengan melibatkan kurator tingkat nasional mulai dari koreografer atau desainer. Misalnya di Festival Fulan Fehan sudah melibatkan Eko Pece (Eko Nugroho) koreografer di upacara pembukaan Asian Games dan banyak koreografer lainnya. Tenun NTT bagus, kita bisa libatkan desainer andal begitu juga musik. Intinya semuanya harus level nasional supaya kebudayaan kita juga bisa dikurasi dengan level nasional," kata Menpar Arief Yahya.

Hal lainnya yang juga bisa dilakukan adalah menghadirkan event-event besar berskala nasional ataupun internasional di Atambua. Selain itu, Desa Tulakadi juga letaknya strategis karena berada di jalur utama dari Atambua ke PLBN Motaain yang menjadi salah satu pintu masuk wisatawan dari Timor Leste.

Desa Tulakadi yang berada di ketinggian ini juga memiliki area pandang luas ke penjuru Kabupaten Belu. Dari Desa Tulakadi, siapapun yang berkunjung dapat melihat bagaimana keindahan alam NTT dengan hamparan rumah khas masyarakat setempat dan keramahan para warga. Maka tak ayal, masyarakat Desa Tulakadi sejak setahun terakhir dengan semangat membangun desanya untuk menjadi salah satu destinasi wisata.


Simak Juga 'Patung Jokowi Dirilis Musim Panas Ini di Madame Tussauds Hong Kong':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/ibh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed