DetikNews
Minggu 07 Oktober 2018, 15:26 WIB

Mengeksplorasi Kekayaan Alam Geopark Ciletuh Palabuhanratu

Rizki Ati Hulwa - detikNews
Mengeksplorasi Kekayaan Alam Geopark Ciletuh Palabuhanratu Foto: Dok APPSI
Jakarta - Geopark Ciletuh Palabuhanratu yang merupakan UNESCO Global Geopark memiliki keanekaragaman hayati dan geologi yang menakjubkan. Bersama Pemprov Jawa Barat, Tim Ekspedisi Jalur Darat 34 Gubernur mengeksplorasi keanekaragaman tersebut.

Area Geopark yang mencakup 7 kecamatan di Kabupaten Sukabumi ini memiliki keanekaragaman hayati berupa suaka margasatwa dan area konservasi. Diantara spesies yang masih eksis adalah Owa Jawa, Elang Jawa, Kukang, Surili, Banteng dan sebagainya. Sementara satwa yang dikonservasi adalah penyu, dimana area konservasi tersebut adalah pusat penangkaran penyu terbesar di Indonesia.

Pada Sabtu (7/9) di area konservasi penyu di Pantai Ujung Genteng, Tim Ekspedisi APPSI bersama Pemprov Jabar melepas 570 tukik yang telah ditetaskan pada malam harinya.


Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat Ja'far Ismail mengungkapkan, secara alamiah induk penyu datang ke ujung genteng untuk bertelur lalu kemudian dikonservasi dengan ditetaskan dan dilepas kembali ke lautan. Namun Ja'far menyayangkan dari waktu ke waktu jumlah induk penyu yang bertelur terus berkurang.

"Ada pengurangan jumlah penyu yang bertelur karena terjadi abrasi sehingga kawasan pantai yang landai berkurang, ditambah melebarnya aktivitas nelayan hingga ke area konservasi," ungkap Ja'far kepada Tim Ekspedisi APPSI.

Pihaknya telah melakukan berbagai upaya edukasi terhadap masyarakat, bahwa ketika penyu lestari maka masyarakat akan sejahtera. Sebab konservasi dan wahana lepas penyu menjadi salah satu destinasi favorit dari wisatawan lokal hingga mancanegara.

Selain keanekaragaman hayati, Geopark Ciletuh memiliki keanekaragaman geologi. Diantaranya batuan tertua di Jawa Barat, Geyser Cisolok, dan Mega Amphiteater Panenjoan dan sebagainya.

Tim Ekspedisi APPSI berkunjung ke Mega Amphiteater Panenjoan yang merupakan deretan perbukitan yang menghadap ke laut berbentuk tapal kuda, atau berbentuk seperti gelanggang dengan ukuran raksasa.


Prof Mega Fatimah Rosana, Pakar Geologi UNPAD kepada Tim Ekspedisi APPSI mengungkapkan kawasan bukit panenjoan disebut amphiteater, selain berbentuk seperti gedung amphiteater, juga menampilkan pertunjukan alam yang menakjubkan. Yakni ragam kekayaan alam seperti suaka margasatwa, cagar alam, keunikan geologi dan ragam fenomena alam lainnya.

Informasi lebih lanjut tentang Ekspedisi APPSI bisa dilihat di sini.
(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed