"Sejak kejadian kita di sini. Malam-malam kita lari ke sini semua," kata Rahman Saleh, warga pantai Layana yang kini mengungsi di perbukitan, Sabtu (6/10/2018).
Budi sebelumnya tinggal di Kampung Dupa 2, Layana, Palu. Kini dia dan tetangga-tetangganya mendirikan tenda-tenda untuk tempat tinggal.
Tenda-tenda itu didirikan di lahan kering yang biasanya jadi area perkebunan. Pagar dari kayu juga membatasi area pengungsian mereka.
Saat ditemui, ada puluhan pengungsi yang ada di tenda. Mereka terlihat berkumpul mengasuh anak-anak dan melakukan aktifitas lainnya.
"Kalau siang-siang yang muda-muda itu turun ke bawah, cari keluarga. Nanti malam mereka balik ke sini lagi. Malam penuh ini tenda," katanya.
Sejumlah bantuan berupa makanan dan keperluan bayi sudah sampai di pengungsian ini. Mereka bergantian mengolah makanan dan mengambil air untuk keperluan lain.
"Kalau untuk makan minum cukup tapi kalau untuk mandi kurang. Kadang-kadang kita ambil air di koala (sungai) tidak jauh dari sini. Itu air dari gunung," kata Rahman.
Beruntung masih banyak peralatan masak yang bisa diselamatkan warga dari rumah mereka. Kondisi itu pun membantu pengungsi bertahan hidup setelah bencana melanda daerah mereka.
"Itu barang-barang kita ambil di rumah. Besok pagi setelah kejadian itu kita balik ke rumah, kita bawa yang bisa dipakai ke sini," kata pengungsi lainnya.
Ini video Jerit Tangis Keluarga dalam Evakuasi Korban Gempa di RS Palu
(abw/dnu)











































