DetikNews
Jumat 05 Oktober 2018, 18:30 WIB

Tapal Batas

Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera Pasifik

Danu Damarjati - detikNews
Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera Pasifik Suasana pantai di patok tapal batas RI-PNG, Skouw (Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Patok MM1 penanda batas wilayah Indonesia dan Papua Nugini telah berhasil disambangi dengan patroli lewat perjalanan cukup berat. Sebenarnya, suasana di titik terdepan ini berpotensi menjadi destinasi pariwisata.

Hal ini diungkapkan oleh tentara Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Yonif Para Raider 501 Kostrad, usai mereka berpatroli mencapai patok MM1 yang berlokasi di Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Minggu (9/9/2018).


Akses menuju patok ini memang sulit dan berbahaya. Para personel Satgas Pamtas harus menggunakan tali karmantel dan peralatan mendaki gunung untuk menuruni bukit dan jurang. Pepohonan melintang di sana dan sini. Tanah dan bebatuan rawan menggelincirkan langkah.

Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera PasifikAkses menuju patok MM1 begitu sulit. (Danu Damarjati/detikcom)

Tentara pun perlu berhati-hati saat berpatroli menuju patok perbatasan paling utara di Bumi Cenderawasih ini, apalagi orang biasa. Nyali dan energi perlu dalam kondisi prima bila hendak menuju titik ini.

Memang di jurang dan tebing yang curam itu terdapat kayu-kayu bekas konstruksi tangga sederhana. Namun kayu itu sudah lama rusak, sebagian juga terlalu lapuk untuk diandalkan sebagai penopang langkah manusia. Padahal bila akses menuju patok ini dibangun lebih baik, maka tempat ini bisa dikunjungi banyak orang.


"Dulu ada tangganya, dari kayu. Sekarang kondisinya sudah rusak parah. Kalau memang bisa, diberilah akses tangga saja yang sifatnya permanen, jadi nanti kalau dari atas bisa memungkinkan pengunjung yang datang untuk turun ke bawah," tutur Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Satgas Pamtas, Lettu Inf Dian Nurhuda, di depan patok MM1.

Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera PasifikPantai karang dekat patok perbatasan RI-PNG di Skouw, Jayapura. (Danu Damarjati/detikcom)

Di seberang pandangan Lettu Inf Dian, terhampar Samudera Pasifik yang menghantam bebatuan karang teritori Indonesia. Karang-karang tajam di sini beraneka rupa, ada yang berwujud bola besar seolah bertumpu pada permukaan yang kecil, ada yang runcing di kejauha, ada pula yang cekung dan menyimpan air.

Suara deburan ombak dipadu dengan angin mampu menghipnotis tiap orang yang termangu di punggung Bumi Cenderawasih ini.


"Di sini "view"-nya sangat bagus, ada pantai yang langsung bisa melihat banyak karang," kata Dian.

Bila melempar pandangan ke kanan, terlihat ada pohon melintang hingga ke perairan. Di sebelah timur itu, pantai karang berangsur-angsur ganti suasana menjadi pantai berpasir. Itu adalah kawasan Wutung, Papua Nugini, alias sudah luar negeri. Terlihat beberapa kapal nelayan di kejauhan negara tetangga sana.

Di seberang sana, di pantai berpasir, adalah teritori Papua Nugini. (Danu Damarjati/detikcom)

Ini sungguh cocok jadi tempat wisata banyak orang. Dian mengatakan, bila banyak orang Indonesia yang bisa mengakses titik ini, maka itu justru bakal memudahkan pengawasan kawasan perbatasan negara. Masyarakat Indonesia menjadi lebih sadar akan teritori negaranya. Dengan demikian, setiap perubahan di kawasan terdepan akan menjadi perhatian banyak orang.

"Apabila di sini orang sering datang dan jadi tempat wisata, inipun akan memudahkan pengendalian kita, orang banyak yang melihat kondisi patok dan memastikan kondisinya tidak berubah. Seumpama nanti patok bergeser, hilang, atau hancur, maka masyarakat akan melapor. Penanganan akan lebih cepat," tutur Dian.

Patok perbatasan negara seperti MM1 ini tentu kokoh berdiri karena berbahan beton. Menggeser dan merusaknya pun juga bakal susah. Apalagi ada titik koordinat GPS yang bisa memastikan batas negara yang persis meski patok ini hilang. Namun ada kerawanan lain, yakni lalu lintas di laut yang sering menjadi jalan penyelundupan.

Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera PasifikPantai karang menghadap Samudera Pasifik. (Danu Damarjati/detikcom)

Untuk mengawasi lalu lintas kapal di lautan itu, Satgas biasa memantau dari Mercusuar Oinake dekat PLBN Skouw. Bila ada pergerakan kapal, maka Satgas akan meneruskan informasinya ke pos TNI Angkatan Laut yang punya peralatan kelautan lebih memadai.


Mengamat-amati suasana yang berpotensi menjadi destinasi wisata ini, ternyata tangan-tangan jahil sudah menjamah. Karang-karang alami yang mencuat memukau mata kini telah dicorat-coret dengan cat semprot. Tentu destinasi wisata pantai yang baik perlu dijaga kondisi alamiahnya, bila
memang potensi ini bakal dikembangkan.

Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Para Raider 501 Kostrad, Letkol Inf Eko Antoni Chandra Listyanto (Fahrur Roji/detikcom)

Kami kembali ke Pos Komando Taktis (Pos Kotis) untuk menemui Komandan Satgas Pamtas, Letkol Inf Eko Antoni Chandra Listyanto. Dia menyatakan pantai di sekitar patok MM1 memang punya potensi wisata. Ada rencana, akses menuju patok MM1 akan dipermudah sehingga masyarakat umum bisa turun hingga ke bawah.

Pada kesempatan kunjungan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono di proyek pembangunan Pasar Skouw, Mei lalu, Kepala Distrik Muara Tami Supriyanto menyampaikan ke Basuki agar ada tangga inspeksi menuju patok MM1.

"Seperti kita tahu, untuk menuju patok MM1 memerlukan waaktu cukup lama dengan medan yang sangat rawan, sehingga ada baiknya itu dibangunkan tangga inspeksi. Selain untuk mempermudah pelaksanaan pengecekan MM1, itu juga bisa digunakan masyarakat sebagai daerah wisata baru," kata Letkol Inf Chandra.

Simak terus kabar dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.


  • Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera Pasifik
    Suasana pantai di patok tapal batas RI-PNG, Skouw (Danu Damarjati/detikcom)
  • Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera Pasifik
    Patok MM1 RI-PNG di Skouw, Jayapura. (Danu Damarjati/detikcom)
  • Ada Potensi Wisata di Patok Negara Tepi Samudera Pasifik
    Patok MM1 RI-PNG, Skouw (Danu Damarjati/detikcom)

(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed