Kebohongan Ratna Sarumpaet Disebut Mirip Propaganda ala Rusia

Kebohongan Ratna Sarumpaet Disebut Mirip Propaganda ala Rusia

Muhammad Idris - detikNews
Jumat, 05 Okt 2018 16:20 WIB
Kebohongan Ratna Sarumpaet Disebut Mirip Propaganda ala Rusia
Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Jakarta - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani, meminta Polri menyelidiki kasus Ratna Sarumpaet (RS) tidak sebatas terpenuhinya unsur-unsur pidana yang dipersangkakan, tapi juga perlu melakukan penyelidikan dalam spektrum yang lebih luas.

Spektrum lebih luas yang dimaksud Asrul adalah kemungkinan adanya upaya menggunakan kebohongan untuk membangun ketakutan publik, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan posisi politik. Kebohongan dengan tujuan ini biasa disebut 'firehose of the falsehood'. Sebuah teknik propaganda yang lebih dikenal sebagai propaganda ala Rusia.

"Teknik propaganda ini berciri khas melakukan kebohongan-kebohongan nyata (obvious lies) guna membangun ketakutan publik dan tujuan mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya. Dan ini dilakukan secara terus-menerus atau repetitive action," kata Arsul dalam keterangan tertulis, Jumat (5/10/2018)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arsul menduga pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggunakan teknik ini. Sebab, menurutnya, tim Prabowo-Sandi bukan kali ini membuat kebohongan yang menghebohkan.


Sebelumnya, kata dia, kebohongan dilakukan dalam isu pembakaran mobil Neno Warisman yang disebarnya secara sengaja dan terus-menerus oleh tim Prabowo-Sandi. Padahal kemudian diketahui mobil tersebut terbakar akibat korsleting.

"Selain ciri usaha menimbulkan ketakutan pada publik, teknik propaganda ini juga disertai dengan teknik playing victim, yakni menimbulkan kesan bahwa pelaku pembohongan adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak. Yang kemudian diasosiasikan dengan kelompok penguasa," jelasnya.

Sekjen PPP ini menambahkan teknik propaganda ini merupakan salah satu sumber pengembangan hoax dan ujaran kebencian. Karena itu, jika ingin memerangi hoax dan ujaran kebencian, menurutnya, penyelidikan untuk membongkar teknik propaganda tersebut perlu dilakukan.

(idr/ega)


Berita Terkait