"Ini menjadi pelajaran, kepada rekan-rekan oposisi, untuk jangan mudah larut dalam nuansa kebencian membabi buta, sehingga menjadikan kebijaksanaan yang semestinya dimiliki seorang pemimpin bersalin rupa atau ditutupi amarah belaka," kata Rommy, dalam keterangan tertulis, Rabu (3/10/2018).
Ia menyebut bahkan para penyebar informasi hoax itu mengerahkan semua upaya untuk menyebarkan informasi tersebut agar bisa mendapatkan simpati masyarakat. Semua cara dan jurus dilakukan, agar semua tampak begitu dramatis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun saat informasi ini kemudian terbukti palsu, para penyebar hoax itu tidak mampu untuk menarik kembali informasi yang sudah tersebar. Bahkan ada kesan, para penyebar hoax itu tidak mau menarik kembali informasi palsu tersebut.
"Seberapa mampu mereka yang sudah membabi buta menebar info palsu itu menariknya? Kalau pun mampu, maukah mereka?" tanya Rommy.
Rommy memberikan apresiasi kepada para penegak hukum yang bergerak cepat membantah hoax ini secara ilmiah. Tapi hoax ini terlanjur membuang banyak tenaga sia-sia. Ia juga sampaikan apresiasi kepada para dokter, khususnya Tompi yang mulai menelisik kebenaran informasi palsu tersebut secara medis.
Rommy menyerukan kepada semua pihak untuk tidak halalkan segala cara hanya untuk menarik perhatian pemilih. Bangsa ini sedang berduka.
"Fokus saja pada energi positif meringankan saudara-saudara kita di Sulteng dan NTB. Atau menggagas kreativitas yang bernilai tambah untuk bangsa. Ketimbang menarik perhatian dengan berita palsu dan manuver yang tak beretika seperti itu," jelas Rommy. (ega/mul)











































