Data angka pengangguran ini dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Banten. Yaitu 5,6 juta penduduk bekerja pada periode ini. Angka ini naik sebanyak 108 ribu pekerja pada periode dan tahun sebelumnya.
Baca juga: Banten di Bawah Bayang-bayang Korupsi |
Tapi, penambahan ini juga dibarengi dengan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 7,77 persen atau 0,47 ribu pengangguran.
Angka ini rupanya lebih besar dibandingkan angka pengangguran nasional di angka 5,13 persen. Angka ini juga berada di posisi ke dua nasional setelah daerah Jawa Barat di mana Banten pernah menjadi satu daerah bagian. Dan rupanya, penganggguran terbuka banyak disumbang lulusan SMP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diceritakan MM, warga Cikande, Serang. Agar diterima bekerja di sebuah pabrik sepatu, istrinya diminta membayar sebanyak Rp 6 juta. Tawaran itu datang dari tetangganya dan menjadi hal lumrah bagi mereka yang tinggal di kawasan industri.
"Kemarin (istri) mau masuk kerja diminta duit. Kita kan mau cari kerjaan dengar informasi dari tetangga, katanya ada yang bisa masukin tapi bayar. Ya sudah bikin lamaran serahkan ke dia. Kalau keterima baru dibayar, kalau nggak keterima nggak bayar. Bayar Rp 6 juta," katanya saat bercerita kepada detikcom, Serang, Banten, Rabu (3/10/2018).
Cerita yang dialami istrinya, kata MM juga dialami oleh orang-orang yang ia kenal ingin mencari kerja. Khususnya di wilayah industri, ini menurutnya jadi rahasia umum.
"Cerita itu sering di Serang timur. Kalau kita cari korbannya banyak di sana,"tambahnya.
Fakta lain, pada Maret 2018, BPS merilis jumlah penduduk miskin di daerah ini ada di angka 661,36 ribu orang. Ini menunjukan fakta bahwa ada penurunan sebanyak 38,47 ribu dibanding kondisi pada September 2017 yang jumlahnya 699,83 ribu orang.
Dari angka tersebut, rupanya penduduk miskin di Banten didominasi penduduk perkotaan. Angkanya mencapai 393,80 ribu penduduk kota masuk kategori miskin. Sedangkan di pedesaaan, ada 267,55 ribu penduduk miskin.
Gubernur Wahidin Halim mengatakan ada masalah dengan maraknya eksodus industri ke daerah lain. Faktor lain seperti upah kerja yang tinggi, bahan baku impor yang mahal karena nilai dolar juga jadi penyumbang pengangguran di Baten.
"Ini nggak lepas dari kebijakan makro yang dilakukan pemerintah pusat," ujar Wahidin.
Sedangkan biaya bekerja di industri, ia tidak menampik bahwa hal itu ada di Banten. Ia mendukung hal ini dilaporkan kepada polisi kareta termasuk pungli. Pemprov, menurutnya hanya bisa membantu tenaga kerja mencari dengan cara membuka pameran kerja.
Namun, ia menampik bahwa Banten identik dengan kemiskinan. Ia mengatakan bahwa ada penurunan angka kemiskinan dan IPM (indeks pembangunan manusia) yang meningkat di atas rata-rata nasional. Selain itu, Banten menurutnya menjadi daerah dengan ranking 3 investor terbesar se Indonesia.
"APBD kita juga nomor 5 terbesar se-Indonesia," kata Wahidin singkat.
Simak Juga 'Sandi: Selama Saya Tugas, Pengangguran di DKI Turun 20.000':
(bri/asp)











































