DetikNews
Rabu 03 Oktober 2018, 11:49 WIB

Kemenpora Anggap Somasi Roy Suryo Salah Alamat

Amalia Dwi Septi - detikNews
Kemenpora Anggap Somasi Roy Suryo Salah Alamat Roy Suryo (Usman Hadi/detikcom)
Jakarta - Sesmenpora Gatot Dewa S Broto angkat bicara soal rencana somasi Roy Suryo ke Kemenpora terkait kasus barang aset negara yang belum dikembalikan. Menurut Gatot, somasi Roy Suryo yang akan dilakukan siang nanti salah alamat.

Gatot menjelaskan tuduhan tersebut tidak benar karena Kemenpora telah menyerahkan langsung surat kepada Tigor soal penjelasan dan list barang yang harus dikembalikan, yaitu sejumlah 3.226 unit. Jumlah itu didasari data hasil LHP BPK yang harus dan wajib ditindaklanjuti sesuai ketentuan Pasal 20 UU 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.



"Kami punya bukti foto dan tanda terima kami menyerahkan surat dokumen itu kepada Tigor pada 20 September. Sebanyak 30 halaman list barang-barang semua ada di situ. Jadi tidak benar kami dibilang ngumpetin. Sebaliknya, kami butuh kepastian," ujar Gatot kepada detikcom, Rabu (3/10/2018).

Gatot pun mempersilakan keinginan Roy melakukan somasi tersebut. Kemenpora ditegaskan tak takut karena memiliki bukti.

"Tapi kalau beliau mau somasi, silakan saja itu hak hukum dia, kami tidak takut kok," katanya.

"Harapan kami hanya ingin masalah ini segera selesai karena kalau Pak Roy tetap seperti itu, itu artinya menyandera kami. Kami yang dituntut oleh BPK. Jadi intinya somasi itu salah alamat, wong kami punya bukti dan foto," Gatot menegaskan.

Sebelumnya diberitakan, kuasa hukum Roy, Tigor Simatupang, menyatakan akan mengambil langkah somasi kepada Kemenpora. Alasannya, Kemenpora dianggap tidak bisa memenuhi permintaan mengenai daftar barang-barang milik negara yang disebut dibawa Roy.




Tonton juga 'Kuasa Hukum Roy Suryo: Apa Benar Menteri Ngumpulin Barang Bekas?':

[Gambas:Video 20detik]


(ads/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed