Awas, Giliran Kabut Asap Asal Sumsel 'Intai' Malaysia
Rabu, 17 Agu 2005 23:25 WIB
Palembang - Meskipun Pemerintah tidak menyebutkan Sumatra Selatan sebagai salah satu daerah 'pengekspor' asap ke Malaysia, tapi tampaknya kemungkinan itu akan terjadi. Pemantauan hotspot pada satelit NOAA terdeteksi 222 itik api."Selama tujuh tahun kita monitor, maka pada bulan September merupakan yang paling tinggi jumlah titik apinya," kata Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Dodi Supriadi, di Kantor Gubernur Sumsel, Jalan Kapten A. Rivai, Palembang, Rabu (17/8/2005). Dodi menuturkan, pada Minggu 14 Agustus kemarin, jumlah titik api yang terdeteksi di Sumatera Saltan, sekitar 85 titik. Sebaran titik api itu berada di Ogan Komering Ilir (OKI), Musirawas dan sebagian lagi di Ogan Ilir (OI) seperti di Indralaya.Berdasarkan pemantauan satelit NOAA itu, titik api itu berada di Kabupaten Muaraenim sebanyak 74 titik api, Kabupaten Musi Banyuasin sebanyak 30 titik api, Kabupaten Ogan Ilir 20 titik api, serta Kabupaten Musi Rawas (Mura) sebanyak 24 titik api. Demikian informasi dari data situs South Sumatra Forrest Fire Management Project (SSFFMP) yang berpusat di Palembang.Dijelaskan, jumlah titik api periode Agustus 2005 lebih banyak dibanding periode Juli 2005. Penyebaran hotspot pada Juli 2005 di Sumatra Selatan berdasarkan hasil pemantauan dengan satelit NOAA terdeteksi sebanyak 95 titik api. Titik api itu berada di Kabupaten Muaraenim 18 titik api, Kabupaten Ogan Ilir 19 titik api dan Kabupaten Musi Banyuasin 17 titik api.Dodi menyampaikan, puncak titik api terbesar di Sumatera Selatan, biasanya terjadi pada bulan September. Ini kebiasaan selama 7 tahun terakhir --sejak 1997 sampai 2004-- titik api itu dapat mencapai 1.600 sampai 1.700 titik api. Untuk mengatasi kebakaran hutan dan semak di wilayahnya, Dinas Kehutanan sudah berkoordinasi dengan dinas-dinas yang ada di kabupaten. Tujuannya, untuk memonitor, waspada, serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat. "Dalam waktu dekat Dinas Kehutanan akan melakukan kampanye melalui media massa, seperti televisi dan radio untuk mengimbau masyarakat supaya jangan melakukan pembakaran hutan," lanjut Dodi.
(ism/)











































