Salah satu lokasi yang mengalami rusak parah adalah Hotel Roa Roa di Palu. Puluhan orang diduga tertimbun bangunan hotel yang runtuh. Salah seorang korban diketahui sempat mengirimkan pesan pendek melalui telepon seluler (ponsel). Dia memberitahukan posisinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Denny, sejak pencarian dimulai hingga saat ini, ada 11 korban yang dievakuasi. Dari 11 korban itu, 6 orang di antaranya masih selamat.
"Enam (orang) selamat, 4 meninggal di TKP, 1 meninggal di rumah sakit," ucap Denny.
Denny mengatakan ada 50 kamar yang terisi pada saat gempa terjadi. Dia mengasumsikan setiap kamar diisi dua orang, sehingga total ada sekitar 100 orang di dalam hotel yang runtuh itu.
"Setelah didata, 38 orang selamat. Masih ada 26 kamar yang belum terdata," ujar Denny.
Salah seorang korban selamat dari reruntuhan hotel itu bernama Gigih Iman. Dia merupakan salah satu atlet paralayang yang menginap di hotel tersebut.
Gigih saat ini sudah berada di kediamannya di Kota Batu, Jawa Timur. Dia bersama enam orang lainnya yang berasal dari kontingen Jawa Timur menginap di lantai 7 hotel itu.
"Saat gempa terasa, saya langsung keluar dari kamar. Begitu juga yang lain. Saya cari tangga darurat. Setelah itu, saya tidak ingat lagi," ujar Gigih.
Sesaat kemudian Gigih menyadari tubuhnya sudah tertimbun puing-puing bangunan. Posisinya membungkuk dengan beton dan reruntuhan memenuhi bagian atas tubuhnya. Dia berupaya membebaskan diri meski sakit mendera.
"Alhamdulillah, kemudian berhasil," ucapnya.
Setelah berhasil bebas, Gigih bertemu dengan beberapa rekan lainnya. Saat itu kabar tsunami merebak hingga akhirnya mereka memutuskan mencari lokasi yang lebih tinggi.
Cerita tentang upaya penyelamatan diri juga disampaikan seorang warga Singapura bernama Ng Kok Choong. Keberadaannya di Palu juga berkaitan dengan kompetisi paralayang. Namun Ng tidak menginap di Hotel Roa Roa, melainkan Hotel Mercure. Saat gempa terjadi, Ng baru saja meninggalkan hotel untuk pergi ke suatu tempat.
"Saya langsung terjatuh ke tanah dan saya bahkan tidak bisa duduk untuk menyeimbangkan diri saya," ucap Ng.
"Saya melihat hotel itu bergetar seperti jeli, ada debu di mana-mana. Saat momen itu terjadi, hotelnya ambruk," imbuh Ng, yang kemudian bertemu dengan rekannya.
Ng juga menyadari tanda-tanda tsunami dan memutuskan berlari mencari dataran tinggi di sekitarnya. Sesaat sebelum menyelamatkan diri dari tsunami, Ng dan rekannya mendapati seorang bocah perempuan dan ibundanya terjebak reruntuhan hotel.
"Mereka menangis dan kami berlari ke mereka dan berusaha menarik mereka keluar. Kami berhasil menarik bocah perempuan itu, tapi ibunya terjebak," tutur Ng sembari menyebut bahwa saat itu dirinya bisa melihat gelombang tsunami mendekat dengan cepat.
"Teman saya membawa bocah itu menjauh dan berlari ke arah berlawanan dengan tsunami. Dia berlari ke atas pohon dengan bocah itu dan ayah bocah itu. Sang ibu tidak bisa ditolong," imbuhnya.
Ng berhasil menemukan dataran tinggi dan tetap di sana saat tsunami menerjang. Ng menggambarkan situasi saat itu 'menakutkan dan gaduh' dengan angin berembus kencang, gelombang menerjang, dan gedung-gedung bergetar. Dia menunggu sekitar 30 menit hingga tsunami surut dan situasi dirasa aman. Ng turun dan kembali mendatangi lokasi ibunda bocah kecil itu yang terjebak.
Ng masih bisa mendengar teriakan minta tolong dan teriakan kesakitan wanita itu. Potongan beton menimpa paha wanita itu. Ng berusaha memindahkan potongan beton itu, tapi dia tidak kuat. Dia menunggu di lokasi itu hingga 1-2 jam kemudian saat sejumlah warga lokal datang dan membantunya. Potongan beton itu akhirnya bisa diangkat secara bersama-sama dan wanita itu diselamatkan.
Singkat cerita, Ng berhasil mempertemukan wanita itu dengan anaknya yang sempat diselamatkan rekannya. Kini Ng telah kembali berada di Singapura, setelah mengikuti evakuasi militer yang dilakukan di salah satu bandara lokal Palu.
"Saya pikir Anda bisa mempelajari semua hal tentang gempa. Tapi, saat gempa mengguncang tiba-tiba, kekuatannya sangat hebat dan Anda bahkan tidak bisa berlari saat itu terjadi. Saya beruntung bisa keluar dari hotel," ucap Ng. (dhn/jor)











































