detikNews
Minggu 30 September 2018, 21:51 WIB

Rel Mati di Cibatu-Garut Ini 'Terkubur' Dana Desa

Ibad Durohman - detikNews
Rel Mati di Cibatu-Garut Ini Terkubur Dana Desa Ilustrator: Edi Wahyono
Jakarta - Jalan selebar 2,5 meter dengan panjang 595 meter yang ada di Kampung Cibodas, Desa Keresek, Kecamatan Cibatu, Garut, Jawa Barat, baru saja rampung diperbaiki dalam sebulan ini. Namun jalan beralas semen yang memakan biaya Rp 210 juta melalui dana desa ini terancam dibongkar lagi. Pasalnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) bakal mereaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut itu.

"Nah, proyek itu baru dikerjakan bulan Agustus kemarin dan baru selesai. Masih ada yang belum selesai sekitar 108 meter. Jadi totalnya 700 meter lah. Saya bingung juga nih. Kita buat jalan itu, tapi seminggu lalu dapat informasi dari PJKA bahwa rel akan dipakai lagi," ungkap Herna Sukarna, Ketua RW 07, Kampung Cibodas, Desa Keresek, saat berbincang dengan detikcom.

Herna menyesalkan tidak adanya sosialisasi lebih awal dari PJKA, Perusahaan Jawatan Kereta Api, yang kini berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI). Sebab, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses menuju Kampung Cibodas, yang ujungnya di jembatan kereta api Cikoang. Setelah jembatan itu, ada kampung bernama Loji.

"Kalaupun mau dibongkar buat jalan kereta itu baiknya bagaimana, ya? Seharusnya itu pihak KAI ada sosialiasi dulu. Sebab akses jalan ke kampung itu kan cuma bisa itu aja, ke sananya kan jembatan mati itu," sesal Herna. Sudah tidak ada sosialisasi, tiba-tiba, menurut Herna, Jumat pekan lalu dirinya menerima surat dari PT KAI berisi pemberitahuan tentang penebangan pohon di sepanjang jalan Kampung Cibodas pada 28 September. Penebangan pohon secara mendadak itu dipercepat dari jadwal karena adanya kunjungan direksi KAI. Warga pun tambah marah.

"Dan untuk eksekusi itu tenyata yang menebang pohon itu malah warga karena katanya PT KAI buru-buru mau ada kunjungan direksi. PT KAI bilang ke warga 'tolong yang punya gergaji dan sinso potong sendiri pohonnya.' Karena katanya KAI ribet kalau bawa dari Bandung. Nah ketika kami tanya apakah ada ganti rugi kata orang KAI itu 'nggak ada ganti rugi.' Tambah marah warga," ucap Herna.

Jalan beton di atas rel di Kampung Cibodas, Desa Keresek, Cibatu, yang dibangun di atas rel memakai dana desa.Jalan beton di atas rel di Kampung Cibodas, Desa Keresek, Cibatu, yang dibangun di atas rel memakai dana desa. Foto: Ibad Durohman
Kepala Humas Daops II PT KAI Joni Martinus mengatakan jalur kereta Cibatu-Garut sepanjang 19,3 kilometer menjadi prioritas reaktivasi empat jalur kereta di Jawa Barat. Sebelumnya, dalam pertemuan antara direksi PT KAI dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, terlontar rencana reaktivasi jalur kereta Bandung-Ciwidey, Banjar-Pangandaran, Rancaekek-Tanjungsari, dan Cibatu-Garut.

Proses reaktivasi rencananya dimulai Desember 2018 dan rampung pada 2019. Biaya yang dialokasikan untuk rute tersebut Rp 7,8 triliun. "Dari empat jalur utama ini, pada tahap pertama, yang akan kami kerjakan adalah rute Cibatu-Garut. Dan menurut pemerintah pusat (Kementerian Perhubungan), anggaran biayanya Rp 7,8 triliun," ujar Joni kepada detikcom pekan lalu di Bandung.

Untuk keperluan tersebut, Daops II langsung menerjunkan tim Divisi Aset untuk melakukan pendataan. Data awal menunjukkan kondisi rel Cibatu-Garut masih fifty-fifty atau sebagian sudah menjadi bangunan atau permukiman warga, sebagian lain masih berupa persawahan.

Menurut Joni, setidaknya ada 1.330 warga yang mendirikan bangunan dan beraktivitas di jalur kereta Cibatu-Garut. Setelah dilakukan pendataan, rencananya PT KAI akan melakukan sosialisasi kepada seluruh warga, terutama soal rencana penggusuran.

Ditambahkan Joni, jika berdasarkan surat keputusan direksi PT KAI saat pembebasan lahan di jalur kereta cepat Jakarta-Bandung, besaran biaya untuk uang pindah warga Rp 250 ribu per meter persegi untuk bangunan permanen.

Sedangkan untuk bangunan semipermanen Rp 200 ribu per meter persegi. "Kalau aturannya tidak berubah, kita akan pakai. Nah, kalau aturannya tidak berubah, itu kita kan pakai SK direksi itu," kata Joni.

Ulasan selengkapnya dapat Anda baca di detikX edisi "Rel Si Gombar Pun 'Terkubur' Dana Desa"
(ddg/irw)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com