TNI Segera Tarik 2 Batalyon Pasukan Pemukul dari Aceh
Selasa, 16 Agu 2005 14:40 WIB
Banda Aceh - TNI segera menarik 2 batalyon pasukan dari satuan pemukul dari Aceh. Penarikan pasukan ini dilakukan sebelum GAM mengumpulkan senjata-senjara mereka. Nantinya, hanya pasukan TNI organik yang akan berada di Aceh dengan jumlah sekitar 14 ribu personel.Pernyataan itu diungkapkan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke markas TNI Batalyon 122/Tombak Sakti, Indrapuri, Aceh Besar, Selasa (16/8/2005)."Penarikan pasukan ini mendahului pengumpulan senjata GAM. Dan ini merupakan bukti bahwa TNI serius soal perjanjian damai antara Indonesia dengan GAM. Dua minggu sebelum perjanjian ditandatangani, saya juga sudah memerintahkan agar TNI tidak lagi melakukan tindakan ofensif," ujarnya. Selama ini, kata Panglima, satuan pemukul merupakan satuan tempur yang tugasnya khusus mencari dan menghancurkan GAM.Setelah penarikan pasukan, jumlah pasukan TNI organik yang tetap berada di Aceh sekitar 14 ribu personel. Ketika ditanya, apakah jumlah ini cukup untuk melakukan pengamanan di wilayah Aceh, Panglima mengaku cukup. Sebab, pasukan TNI organik nantinya akan dibantu oleh personel kepolisian. "Setelah penandatanganan perjanjian, kan tidak ada lagi GAM. Jadi, tidak relevan lagi untuk menempatkan pasukan dalam jumlah yang besar di sini. Dan itu sesuai dengan nota kesepakatan yang sudah ditandatangani," jelas jenderal TNI berbintang empat ini. TNI Patuhi Kesepakatan Panglima juga berpesan kepada para prajurit TNI yang akan ditempatkan di wilayah pemukiman penduduk untuk tidak melakukan tindakan yang justru malah membuat masyarakat tidak merasa nyaman dan aman. "Jangan sakiti masyarakat, apalagi digeplok. Rakyat harus merasa terayomi dengan kehadiran kalian. Tugas kalian adalah melindungi masyarakat dari gangguan siapapun," tegasnya.Ditambahkan dia, dirinya tidak ingin mendengar laporan bahwa pasukan TNI melakukan pelanggaran terhadap nota kesepakatan yang telah ditandatangani. Untuk itu, dia meminta seluruh prajurit TNI untuk menghormati kesepakatan tersebut. Patroli dan pengamanan harus tetap dilakukan, tapi bukan untuk mencari dan menghancurkan GAM. "Tapi jika mereka (GAM-red) datang dengan sikap bermusuhan, kalian tetap memiliki kewajiban untuk membela diri. Mengerti?" kata Panglima di hadapan para prajurit.Panglima mengharapkan, setelah 15 Agustus, tidak ada lagi GAM yang membawa senjata kecuali ke suatu tempat yang sudah ditentukan untuk melakukan pengumpulan senjata. Meski begitu, dia berpesan kepada prajurit TNI di Aceh, jika hal tersebut tidak dilakukan di depan mata para prajurit dan jauh dari lokasi mereka, biarkan saja.Menurut nota kesepahaman, sebanyak 840 senjata GAM akan dikumpulkan oleh tim pemantau. Jumlah tersebut merupakan jumlah senjata standar milik GAM, sedangkan senjata rakitan tidak dihitung. Ditambahkan Panglima juga, setelah penandatanganan nota kesepakatan Indonesia-GAM di Helsinki, Senin kemarin -sesuai dengan MoU- istilah GAM beserta segala atributnya seperti bendera GAM, tidak akan ada lagi.
(asy/)











































