DetikNews
Selasa 25 September 2018, 17:13 WIB

Tapal Batas

Sore di Pantai Holtekamp, Mengamati Kemajuan Proyek di Batas Negara

Danu Damarjati - detikNews
Sore di Pantai Holtekamp, Mengamati Kemajuan Proyek di Batas Negara Penampakan terkini jembatan Holtekamp. Foto: Muhammad Ridho
Jayapura - Menikmati lembayung senja di tepi pantai itu hal biasa. Tapi tak hanya keindahan laut dan langit yang bisa teramati dari pantai ini, proyek Negara juga terpantau.

Pantai Holtekamp merupakan salah satu destinasi wisata warga Kota Jayapura, detikcom mengunjungi pantai ini pada Rabu (5/9/2018) sore.

Proyek negara yang terpantau dari jarak 1 km ke arah laut adalah proyek Jembatan Hamadi-Holtekamp. Wujudnya nampak seperti besi merah kecil yang berdiri melintang di atas Teluk Youtefa. Nampak dari sini, jembatan merah dari arah Hamadi itu belum tersambung ke daratan Kampung Holtekamp.


Jembatan itu bakal melintang 1.328 meter di atas Teluk Youtefa. Dari total panjang jembatan itu, 732 meter-nya merupakan bentang utama. Dari arah Kota Jayapura, tentu saja kami belum melewati jembatan itu. Kami melewati jalan memutari Teluk, waktu yang dibutuhkan sekitar satu jam perjalanan. Namun bila jembatan sudah jadi, diperkirakan hanya butuh setengah jam perjalanan saja dari Kota Jayapura ke Pantai Holtekamp ini.

Proyek itu sudah rampung sekitar 99,7%. Rencananya, jembatan itu akan rampung pada September 2018 dan beroperasi pada Mei 2019. Proyek Rp 943 miliar itu bakal menjadi ikon baru Kota Jayapura.

Jembatan Holtekamp dilihat dari jauh.Jembatan Holtekamp dilihat dari Pantai Holtekamp. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Dari Pantai ini juga terlihat aktivitas masyarakat setempat di hari biasa. Ini bukan hari libur, sehingga pantai sepi dari wisatawan. Saya hanya mendapati satu orang warga setempat yang sedang membenahi jalan ikan.

"Di sini kalau Sabtu dan Minggu ramai, orang tua sampai anak-anak ke sini semua," kata Gustav (50), pria berjenggot yang sedang membenahi jala ikan di pantai ini.


Karena ini bukan hari berwisata, maka tak terlihat ada petugas penjaga yang menariki tiket. Kata Gustav, biasanya pengunjung dikenakan tarif masuk sebagai biaya pemeliharaan pantai ini.

Pengerjaan proyek di Holtekamp.Pengerjaan proyek di Holtekamp. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Meski pemandangannya indah, namun pengunjung perlu berhati-hati saat menginjak pasirnya. Di sini banyak botol berserakan, di antaranya ada botol beling. Di satu sudut, terlihat sampah botol bertumpuk. Bibir pantai juga dikotori oleh sampah-sampah peninggalan wisatawan.

"Ini masih tanah adat, belum diserahkan ke pemerintah, jadi belum ada petugas yang membersihkan. Ini yang biasa bersihkan ya yang menjaga ini, masyarakat," kata pria asli Kampung Holtekamp ini.

Pantai Holtekamp.Pantai Holtekamp. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Status Kampung adat yang dipertahankan turun-temurun semakin terlihat saat kami mencoba mendekati kawasan proyek Jembatan Holtekamp. Kami melewati jalan proyek mendekat ke ujung jembatan, panjangnya sekitar 3 km sampai ujung.

Terlihat di sebelah kanan, spanduk terpasang, isinya adalah keterangan penegasan bahwa ini adalah tanah adat dan punya status yang kuat di mata hukum. Ada nama pemilik tanah di spanduk itu. Spanduk itu ada di antara lalu-lalang orang-orang proyek yang terus saja bekerja.

Pengerjaan proyek di wilayah Holtekamp.Pengerjaan proyek di wilayah Holtekamp. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Eskavator mengeruk tanah yang digenangi oleh air laut. Di sepanjang jalan menuju lokasi proyek, eskavator dan truk-truk terlihat sedang mengangkut timbunan.

Mobil yang membawa kami terus melaju. Suasana kanan kiri yang tadinya tanah berair kini sudah berupa laut. Ini adalah laut di Teluk Youtefa. Permukaan airnya hampir sama tinggi dengan jalan yang kami lalui. Lautnya tak berombak. Entah bagaimana jadinya bila air laut pasang tiba-tiba, barangkali mobil yang kami tumpangi bakal mendapatkan kesulitan.


Setelah 40 menit perjalanan menempuh jalan bergelombang, akhirnya kami sampai di ujung yaitu lokasi proyek jembatan bagian Holtekamp. Jembatan yang dikerjakan di sini bukan berupa baja merah ikonik seperti yang sedang dikerjakan di sisi Hamadi, melainkan berupa jembatan beton.

Bila Hamadi-Holtekamp sudah terhubung oleh jembatan ini, titik ini bakalan ramai oleh lalu-lalang kendaraan. Masyarakat dari Kota Jayapura bisa langsung meluncur ke Distrik Muara Tami, distrik perbatasan, tanpa harus mengitari Teluk Youtefa. Selepas area Jembatan Hamadi-Holtekamp, aspal mantap yang dibangun sejak era Presiden SBY sudah tergelar sampai tapal batas, yakni PLBN Terpadu Skouw yang ikonik

Simak terus kabar dari garis teritori Republik Indonesia di Tapal Batas detikcom!




Tonton juga 'Cerita Senja di Pantai Holtekamp':

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed