Kalla Yakin AMM akan Objektif

Kalla Yakin AMM akan Objektif

- detikNews
Selasa, 16 Agu 2005 00:01 WIB
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla optimistis Aceh Monitoring Mission (AMM) akan bersikap objektif dalam mengawasi pelaksanaan nota kesepahaman (MoU) RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebab kredibilitas dua kawasan, Uni Eropa dan Asia, dipertaruhkan."Itu kawasan yang sangat punya kredibilitas. Tidak mungkin dua kawasan ini tidak objektif," kata Kalla usai memberikan sambutan dalam acara Achmad Bakrie Award 2005 di Hotel Nikko, Jl. MH Thamrin, Jakarta, Senin (15/8/2005) malam.Kalla juga memastikan bahwa AMM hanya bertugas memonitoring pelaksanaan MoU RI-GAM. "Dia hanya memonitoring saja sesuai dengan apa yang harus dicapai. Kalau tidak dimonitoring, nanti kanan kiri itu perjanjian. Harus fokus itu perjanjian."Sementara soal kemungkinan perubahan nama Nanggroe Aceh Darussalam pasca penandatanganan MoU, Kalla menyatakan hal itu akan diputuskan oleh DPRD NAD. "Sekarang kan Nanggroe Aceh Darussalam sudah nama yang cantik," kata Kalla.Lalu ditambahkannya, "Bahwa kalau mau dibalik sedikit atau diubah, itu terserah DPRD. Dan itu sangat demokratis. Apalah arti nama, yang penting suatu kedamaian dan tetap Aceh."Sementara soal Otonomi Khusus Aceh, Kalla menyatakan itu akan merujuk padaUU Nomor 18 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus NAD. "Itu sesuai UU Nomor 18. Hanya beberapa variasi-variasi sedikit, tambahan dari UU tersebut."Kompensasi Bagi GAMSementara soal kompensasi bagi anggota GAM, Kalla menjelaskan alasannya adalah kemanusian. "Mereka itu di lapangan. Integrasi ke masyarakat. Tentu perlu pekerjaan. Dan pekerjaan yang paling banyak di sana itu lahan pertanian. Karena itu pemerintah memberikan lahan pertanian."Kok pemberontak dikasih? "Jutaan hektar tanah diberikan kepada transmigran sejak 20 tahun lalu, juga tanpa pemberontakan. Orang yang tidak punya pekerjaan ya dikasih. Sama saja seperti itu," jelas Kalla.Kalla lalu menuturkan soal pidato penutup Hamid dalam penandatanganan MoU RI-GAM yang berbunyi: Hujan pasti ada berhentinya. Pasti ada akhirnya. Dan perang pun ada akhirnya.Menurut Kalla, ia langsung menelpon Hamid dan menanyakan dari mana mendapat kata-kata tersebut, dan dijawab, "Bapak yang suruh saya pelajari kultur Aceh. Lalu saya baca semua buku-buku tentang sastra Aceh. Dan saya mengambil kata-kata itu dari film Tjut Nyak Dien."Jadi, lanjut Kalla, tidak hanya senjata dapat menyelesaikan persoalan. "Tapi sastra pun dapat memecahkan persoalan," kata Kalla. (gtp/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads