Polda Metro Jaring 448 Orang Preman dalam Tiga Hari
Senin, 15 Agu 2005 16:37 WIB
Jakarta - Polda Metro Jaya berhasil menjaring 448 preman dalam Operasi Sarutama yang digelar pada 11-13 Agustus. Angka ini diprediksi akan terus membengkak mengingat masih banyak Polres yang belum melaporkan hasil operasinya.Data tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Tjiptono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (15/8/2005)."Paling banyak dari Resort Jakarta Timur, sebanyak 170 orang. Tapi banyak juga resort yang belum melaporkan hasil operasinya," ungkap Tjiptono.Sejumlah Polres yang belum melaporkan hasil 'tangkapannya' adalah Polres Jakarta Utara, Polres Jakarta Selatan, Polres Depok, Polres Bandara Soekarno-Hatta, dan Polres Kepulauan Seribu.Tjiptono menilai operasi yang digelar Polda Metro Jaya ini cukup efektif. Sebab operasi tidak hanya dilakukan terhadap orang-orang yang tidak jelas keberadaannya, atau warga yang tidak memiliki KTP."Operasi Sarutama lebih menitikberatkan pada aktivitas dan perbuatan mereka. Selanjutnya kita analisa mana saja yang berpotensi melakukan pelanggaran dan kejahatan. Intinya, yang keberadaannya meresahkan masyarakat," kata dia.Saat ditanya soal organisasi pemuda di Jakarta yang disinyalir merupakan kumpulan preman, dia mengatakan, pihak kepolisian sudah menginventarisir kelompok-kelompok tersebut, kegiatan-kegiatannya dan lokasi mereka. "Dan belakangan ini kita sorot lebih dalam lagi," tegasnya.Operasi Sarutama merupakan tindak lanjut perintah Presiden SBY kepada Kapolri dan Pemprov DKI Jakarta. Perintah SBY berawal dari banyaknya pesan singkat (SMS) dari masyarakat ke nomor 9949 yang mengadukan ulah preman dan mereka meminta preman-preman itu diberantas.Operasi pemberantasan preman ini akan dilakukan secara serentak selama satu bulan di seluruh wilayah Jakarta, termasuk di Kepulauan Seribu.Dalam menjaring preman-preman ini, Polda Metro Jaya memakai parameter yang ditinjau dari tiga hal. Pertama, jenis kegiatan yang dikategorikan premanisme, seperti pembalakan, pencurian dengan kekerasan, penagihan utang, dan pembunuh bayaran. Kedua, pelaku premanisme, yaitu ada yang perorangan, kelompok kecil, dan kelompok besar yang dikoordinir secara lebih sistematik dan resmi.Ketiga, menyangkut tempat tindakan premanisme dilakukan, yaitu di persimpangan jalan, pasar, pelabuhan, kantor-kantor, dan gedung-gedung yang bersengketa.
(umi/)











































