DetikNews
Sabtu 22 September 2018, 11:51 WIB

Menemui Sindikat Pemalsu Buku Nikah di Pasar Pramuka Pojok

Gresnia Arela F, Ibad Durohman - detikNews
Menemui Sindikat Pemalsu Buku Nikah di Pasar Pramuka Pojok Foto: Ibad Durohman/detikX
Jakarta - Namanya mirip, letaknya pun tak terpaut jauh. Namun Pasar Pramuka Pojok memang tak setenar Pasar Pramuka di Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Ingin membeli obat-obatan murah, kepala orang bakal terbayang Pasar Pramuka, yang merupakan sentra obat-obatan terbesar di Indonesia.

Di bawah flyover perempatan Salemba, di sanalah Pasar Pramuka Pojok terletak. Persisnya di Jalan Salemba Raya, RW 06, Kelurahan Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Dulu warga Jakarta menyebut Pasar Pramuka Jati atau Pasar Skripsi. Maklum, di tempat itu banyak kios yang melayani jasa pengetikan, termasuk bikin skripsi.

Tak hanya itu, di Pasar Pramuka Pojok berderet kios fotokopi, penjilidan buku, percetakan kartu undangan, serta pembuatan spanduk dan stempel. Sayang, pasar itu juga menjadi sarang sindikat pemalsu dokumen penting. Mulai skripsi, ijazah sekolah, akta kelahiran, kartu tanda penduduk, kartu keluarga, akta notaris, akta cerai, bahkan buku nikah.

Pada 21 November 2015, jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jaya menangkap 23 orang terduga pemalsu dokumen. Delapan orang di antaranya diproses secara hukum hingga masuk bui, karena terbukti memalsukan berbagai macam dokumen penting. Mereka memasang tarif Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta per lembar dokumen yang dipalsukan.

Sebelum itu, pada 4 Juni 2015, jajaran Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur menangkap tiga pelaku sindikat pemalsuan buku nikah, akta cerai, dan salinan cerai palsu. Dari kios ketiga pelaku ini, polisi menyita empat bundel buku nikah palsu untuk suami dan istri.

Namun penggerebekan itu ternyata tak menyurutkan aksi sindikat pemalsuan dokumen yang beroperasi di Pasar Pojok Pramuka. Mereka 'bersembunyi' di balik pintu-pintu kios yang tertutup rapat serta gelapnya lorong-lorong sempit di sepanjang pasar tersebut.

Saat detikcom menyambangi pasar itu pada Kamis, 13 September 2018, deretan kios yang terletak di depan Jalan Salemba tampak tertutup. Begitu juga dengan kios-kios di bagian dalam, yang rata-rata berukuran 3x3 meter itu. Namun para penjaja jasa pembuatan dokumen palsu selalu sigap mendekati pengunjung yang terlihat celingak-celinguk di dalam pasar.

"Perlu apa, Mas?" tanya salah seorang pemilik kios, sebut saja Bambang, bukan nama sebenarnya, yang tengah menutup rolling door, ketika detikcom datang.

Ketika pura-pura dijawab hendak membuat buku nikah, Bambang langsung membuka kembali kiosnya. "Ya sudah, kita bicara di dalam saja," ajaknya.

Bambang mempersilakan tamunya duduk di kursi plastik berwarna hijau, tepat di depan meja kerjanya. Ia pun langsung menyalakan kembali komputer personal (PC) di atas meja. "Kalau boleh tahu, buat keperluan apa buku nikahnya?" tanya pria bertubuh gempal dan berjenggot itu.

Bambang, bukan nama sebenarnya, salah satu penyedia buku nikah palsu.Bambang, bukan nama sebenarnya, salah satu penyedia buku nikah palsu. (Ibad Durohman/detikX)

Sebelum dijawab, tiba-tiba Bambang nyerocos. Ia menjelaskan kenapa dirinya menanyakan kebutuhan membuat buku nikah itu. Pasalnya, buku nikah yang akan dibuatnya bukan yang resmi alias palsu. Apalagi sejak adanya KTP elektronik, buku nikah sudah terdaftar dalam sistem data kependudukan dan catatan sipil.

"Nanti buku nikahnya tidak akan terdaftar. Secara fisik saja buku itu terlihat asli," katanya lagi sambil bertanya apakah sudah menikah atau belum. Mendengar jawaban 'sudah', Bambang menyimpulkan tamunya menikah siri.

Sayang, Bambang enggan menunjukkan contoh buku nikah palsu. Bambang menjamin buku nikah palsu buatannya sangat mirip dengan aslinya. Ia sendiri mengaku sering membuatnya. Setiap bulan ada saja orang yang meminta dibuatkan buku nikah palsu.

Hampir semua kios di Pasar Pramuka Pojok, menurut Bambang, melakukan hal yang sama. Soal harga juga bervariasi dan bersaing. Harga memalsukan suatu dokumen penting akan makin mahal bila pemesan memakai calo. Sebab, banyak pemesan enggan datang langsung karena takut ketahuan.

Ulasan selengkapnya dapat Anda baca di detikX edisi "Sarang Pemalsu Buku Nikah"
(zal/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed