DetikNews
Jumat 21 September 2018, 17:52 WIB

Ini Titik-titik Rawan Masuk Narkoba di Pantai Timur Sumatera

Audrey Santoso - detikNews
Ini Titik-titik Rawan Masuk Narkoba di Pantai Timur Sumatera Ilustrasi narkoba. Foto: Arief/detikcom
Jakarta - Polisi mengungkap titik-titik yang menjadi daerah rawan masuknya narkoba ke Indonesia. Titik rawan masuk narkoba paling banyak berada di pantai timur Sumatera.

"(Titik rawan narkoba paling banyak) Wilayah Sumatera, Pantai Timur. Mulai dari Aceh itu ada Sabang, Aceh Utara, Aceh Timur, Pidie Raya Aceh Tamiang, Langsa," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Eko Daniyanto dalam keterangan tertulis, Jumat (21/9/2018).



"Saya perintahkan direktur narkoba dan para kasat narkoba untuk mengantisipasi jalur-jalur sungai yang dulunya dipakai jadi jalur masuk senjata GAM (Gerakan Aceh Merdeka)," sambung Eko.

Sementara di Sumatera Utara, daerah yang dipetakan menjadi titik rawan masuknya narkoba adalah Tanjung Balai Asahan dan Pantai Cermin. Sementara di Riau ada Pulau Rupat, Bengkalis dan Dumai yang menjadi titik favorit mafia narkoba.

"Tanjung Bbalai Asahan, saya perintahkan agar kapal nelayan dicek bagian bawahnya. Pantai Cermin rawan juga karena dulu pernah ketangkap sindikat san oknum yaitu Kapospol ditangkap oleh BNN," ujar Eko.

Eko melanjutkan, mafia narkoba juga menyasar titik-titik garis pantai di Kepulauan Riau (Kepri). Menurut analisa pihaknya, lanjut Eko, tak menutup para sindikat barang haram juga melirik perairan Bangka Belitung.



"Kemudian Kepri itu ada 28 titik yang rawan seperti Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang, Bintan, Natuna, Batam sendiri. Bisa saja nanti Bangka Belitung jadi sasaran jalur sindikat," jelas Eko.

"Mereka kan cari tempat-tempat yang aman. Mereka kan juga mapping, di sini ketangkap, ke sana," imbuh Eko.

Sementara itu wilayah pantai Lampung dianggap Eko sebagai pintu masuk narkoba ke Jawa. Eko mengaku untuk mengantisipasi penyelundupan narkoba, pihaknya telah menempatkan satu mobilnyang dilengkapi teknologi x-ray untuk memindai kendaraan-kendaraan yang menyeberang dari Lampung ke Jawa.

"Lampung daerah penyangga sebelum masuk Pulau Jawa. Kita sudah tempatkan mobil x-ray di sana," ucap Eko.

Selain pantai timur Sumatera, Eko menjelaskan narkoba juga masuk melalui perairan Sebatik Kalimantan Utara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. "Kalimantan itu barangnya dari Malaysia," ungkap Eko.

Narkoba yang diselundupkan dari Kalimantan lalu diselundupkan kembali ke Sulawesi. "Sulawesi itu barangnya dari Kalimantan Utara, dioper ke Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Tenggara," lanjut dia.

Eko mengaku telah memerintahkan para komandan reserse narkoba untuk mengajak masyarakat lebih proaktif menginformasikan hal-hal yang mencurigakan terkait pergerakan sindikat narkoba.

"Untuk mengatasi ini kami sadar bahwa kami nggak bisa bekerja sendiri. Saya minta para direktur-direktur rangkul nelayan, beri nomor HP mereka yang bisa dihubungi warga misalnya direktur, kasat. Beri nelayan yang informasikan penghargaan , jadikan masyarakat agen kita dalam memerangi narkoba," tegas Eko.

Selain mengungkap titik-titik rawan masuk narkoba, Eko juga menerangkan pengungkapam kasus selama pekan ketiga September 2018. Dia mengatakan jumlah kasus narkoba seluruh Indonesia yang ditangani pekan ini menurun dibandingkan dengan pekan kedua September.

"Penurunan dari 896 kasus menjadi 890 kasus atau turun 0,67%. Kemudian untuk tersangkanya mengalami kenaikan dari 1.138 orang menjadi 1.159 orang atau naik 1,85%," terang Eko.

Kemudian Eko menerangkan tiga polda yang paling banyak mengungkap kasus narkoba pada pekan ini yaitu Polda Metro Jaya, Polda Sumatera Utara dan Polda Jawa Timur.

"Untuk ranking kerawanan wilayah daerah, crime total pengungkapan yang pertama masih didominasi oleh Polda Metro Jaya 211 kasus, Polda Sumut 116 kasus dan Polda Jatim 99 kasus," tutup dia.
(aud/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed