Tiada Hujan yang Tak Reda

Damailah Aceh

Tiada Hujan yang Tak Reda

- detikNews
Senin, 15 Agu 2005 02:07 WIB
Banda Aceh - Pat ujeun yang hana pirang, pat prang yang hana reda. Sebaris petuah orang Aceh itu menyatakan, tiada hujan yang tak berhenti dan tiada perang yang tak berakhir. Begitulah harapan warga Aceh tentang perdamaian setelah penandatanganan perjanjian damai Indonesia-GAM dilakukan di Helsinki, Senin (15/8/2005).Meski pendapat masyarakat beragam, ada yang optimis, ada yang pesimis, ada pula yang menjawab tidak tahu karena situasi di Aceh sulit diramalkan. "Ketika CoHA mulai dijalankan di Aceh, kita pikir semua akan damai dan keadaan normal kembali. Tapi siapa sangka darurat militer justru lahir setelah CoHA?" ujar Said Taiban, salah seorang warga Banda Aceh pada detikcom, Minggu (14/8/2005).Meski dirinya setengah pesimis melihat kedamaian akan terwujud di Aceh pasca MoU Indonesia-GAM, dia berharap, kedamaian bisa diciptakan dengan itikad dan niat baik kedua belah pihak untuk sama-sama membangun Aceh yang sudah porak-poranda akibat konflik dan tsunami."Kita doakan sajalah semoga semua bisa berjalan sesuai kesepakatan yang telah ditandatangani. Mudah-mudahan CoHA bisa menjadi pelajaran kita semua," harapnya.Perasaan harap-harap cemas di hati warga Aceh pasca MoU tak bisa dipungkiri. Pasalnya, serangkaian perundingan dan kesepakatan antara Indonesia dan GAM seperti Jeda Kemanusian I dan II pada tahun 2000-2001, kemudian digagasnya Cessation of Hostilities Agreement (2002-2003) atau yang lebih dikenal dengan CoHA berakhir dengan buruk. Bahkan CoHa berhenti di tengah jalan dan dilanjutkan dengan pemberlakuan darurat militer di Aceh. Sejumlah tokoh perunding ditangkap dan dijerat dengan pasal-pasal makar. "Kita berusaha tenang dan terus berharap, tapi lihat saja, penculikan, masih saja ada kalau kita baca koran. Belum lagi yang lainnya. Kok saya lihat, jadi tambah ramai saja aksi-aksi kekerasan menjelang penandatangan ini ya," jawab Saiful, salah satu warga Lhokseumawe. Meski begitu, kehadiran tim Uni Eropa dan juga lembaga-lembaga PBB yang ada di Aceh pasca tsunami menimbulkan optimisme di diri Saiful. "Saya lihat, sekarang ini lebih menjanjikan dari pada masa CoHA. Dan mudah-mudahan juga ada tindakan tegas bagi para pelaku pelanggaran kesepakatan. Supaya kedua belah pihak tidak melakukan pelanggaran," katanya.Ketika Jeda Kemanusian dan CoHA, pelanggaran seperti aksi kekerasan, pemerasan, acap terjadi. Sayangnya, kedua belah pihak tidak memiliki acuan hukuman untuk memberikan hukuman atau sanksi. Lain lagi pendapat salah seorang warga Aceh Besar. "Pane na damai," tukas Azhari, pada detikcom. Ucapan Azhari dalam bahasa Aceh itu kira-kira berarti, sulit mewujudkan damai di Aceh. Apalagi menurutnya, watak orang Aceh keras dan umumnya menyimpan dendam."Apa bisa kita diam saja, ketika misalnya melihat anggota GAM yang dulu membunuh orang tua atau saudara kita duduk sama-sama kita, di warung kopi? Atau kita duduk bersama dengan anggota TNI yang misalnya juga melakukan hal yang sama dengan keluarga kita. Susah. Dendam itu pasti ada dan sulit dihapus. Kekacauan pasti masih ada," lanjut dia.Damai bisa saja terjadi, menurutnya. Tapi bukan tak mungkin, kedamaian di Aceh hanya berumur semusim tanam jagung. Tentu saja itu tidak menjadi harapan kita. Kedamaian di Aceh haruslah terwujud dan berumur panjang. Sudah lelah rasanya dihantam konflik dan bencana tsunami. Untuk itu, diperlukan itikad dan niat baik dari semuanya. Karena tiada hujan yang tak reda. (san/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads