DetikNews
Kamis 20 September 2018, 09:44 WIB

Menelisik Bisnis Nikah Bodong di Jakarta Timur

Ibad Durohman, Gresnia Arela F - detikNews
Menelisik Bisnis Nikah Bodong di Jakarta Timur Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta - Pria berusia 80 tahun itu begitu kesohor di lingkungan Rukun Warga 01, Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Hampir setiap warga tahu nama pria asal Indramayu, Jawa Barat, tersebut. Detikcom pun tidak mengalami kesulitan untuk menemukan rumah Maskur-bukan nama sebenarnya-yang dikenal sebagai penghulu pernikahan bodong alias pernikahan bawah tangan.

Rupanya tempat tinggal pria yang terkenal dengan sebutan Ustaz Cirebon itu berada di perkampungan pemulung, yang lokasinya di samping pool mobil truk sampah dan aneka barang rongsokan, tepatnya di wilayah RT 07 RW 01. Saat detikcom datang, Maskur sedang tiduran di atas karpet. "Ayo, silakan duduk. Maaf, saya ketiduran tadi habis salat Asar. Ada keperluan apa?" tanyanya.

Belum juga kami menjawab, Maskur langsung menebak, kedatangan kami untuk urusan nikah. "Ngomong saja kalau mau menikah. Ini jujur saja, ya, sudah ada enam orang yang sudah saya nikahin. Kalau sudah dapat sepuluh pasang yang menikah, saya pulang ngurus ke kantor (Kantor Urusan Agama atau KUA)," terangnya berpromosi.

Rumah kontrakan Maskur di Jakarta TimurRumah kontrakan Maskur di Jakarta Timur Foto: Ibad Durohman

Ternyata, selain urusan menikahkan orang, Maskur mengaku bisa mengurus surat nikah dan buku nikah bagi pasangan yang telah dinikahkannya. Sebab, keluarganya merupakan petugas KUA di Indramayu.

Ia sendiri mengaku pensiunan petugas KUA di Kabupaten Serang, Banten. Pria kelahiran Brebes, Jawa Tengah, itu, bahkan sesumbar pernah menjadi jawara Banten di Menes dan menjadi anggota Barisan Serbaguna (Banser) Ansor di wilayah Banten dan masih aktif hingga saat ini.

Pada 1990-an, Maskur hijrah ke Kramat Jati dan tinggal di sebuah gubuk yang biaya sewanya Rp 400 ribu per bulan. Nah, saat itulah Maskur mulai menikahkan orang berbekal pengalamannya bekerja di KUA Serang. "Kalau di KUA Indramayu, adik saya jadi pimpinannya. Keluarga saya itu pegawai KUA semua. Cuma saya yang sudah pensiun," ujarnya.

Untuk syarat pernikahan ala Maskur, mempelai perempuan harus didampingi wali. Namun, jika tidak ada pun, hal itu bisa diatur. Anak buah Maskur akan menjadi wali hakimnya. Selain itu, setiap pasangan diwajibkan membawa nasi bungkus atau nasi kotak beberapa buah untuk walimahan (syukuran) serta membawa jeruk dan salak.

Namun, saat ditanyakan apakah surat nikah yang dijanjikan itu asli, Maskur menegaskan, yang penting surat nikah itu jadi. Syaratnya juga cukup mudah. Selain sejumlah uang, empat lembar foto 3x dan fotokopi KTP kedua pasangan plus orang tua. "Ya Allah, sudah, pokoknya jadi saja. Kan saya yang ngatur. Surat nomor dua. Saya nggak tahu itu asli apa nggak. Kalau nggak percaya, jangan ke saya."

Buku nikah yang diduga palsuBuku nikah yang diduga palsu Foto: Nugroho Tri Laksono
Menurut keterangan Maman Taofik Rahman, Kepala KUA Kramat Jati, pernikahan yang dilakukan Maskur terhadap sejumlah pasangan sejak 1990-an di luar prosedur yang ditetapkan UU Perkawinan No 01 Tahun 1974. Artinya, pernikahan yang mereka lakukan tidak tercatat.

Kata Maman, mereka yang menikah siri umumnya menghindar dari syarat yang ditetapkan UU Perkawinan, seperti pernikahan di bawah umur, berpoligami tanpa diketahui istri tua, atau karena hamil sebelum menikah.

Berdasarkan UU Perkawinan No 01 Tahun 1974 dan PP No 09 Tahun 1975, pasangan yang akan menikah, supaya terdata secara resmi, wajib melampirkan surat pengantar RT dan RW berikut fotokopi KTP, kartu keluarga, serta foto 2x3 dan 3x4 masing-masing empat lembar. Selanjutnya kelurahan mengeluarkan form N1, N2, N4.

Namun pasangan yang telanjur menikah siri dan ingin tercatat di negara harus melakukan proses isbat nikah, yaitu penetapan pernikahan mereka diulang lewat Pengadilan Agama. "Jadi pasangan yang menikah siri pada 2011, misalnya, dan minta penetapan pernikahan pada 2018, setelah ada putusan Pengadilan Agama, pasangan itu tercatat menikah pada 2018 sesuai tanggal yang ditetapkan pengadilan," jelas Maman.

Tonton video 'Menelusuri Jasa Penghulu Bodong di Kramat Jati.'

[Gambas:Video 20detik]


Diakui Maman, angka pernikahan siri di Kecamatan Kramat Jati cukup banyak. Berdasarkan catatan KUA Kramat Jati, dalam waktu tiga bulan, selama Januari-Maret 2018, ada 14 pasangan nikah siri yang ingin pernikahan mereka tercatat.

Terkait keluarnya buku nikah seperti yang dilakukan Maskur, KUA Kramat Jati tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, hal itu urusan kepolisian. Namun, menurut dia, buku nikah yang benar hanya dikeluarkan oleh kantor KUA kecamatan tempat sepasang pengantin mengikat janji. "Nah, kendati dia menggunakan buku nikah asli, misalnya tadi dari Indramayu, ya tetap nggak bisa, wong menikahnya di Pasar Induk (Kramat Jati). Itu kan karena buku itu bisa disalurkan khusus per wilayah," katanya.

Cara mengecek keaslian buku nikah cukup mudah, yakni dengan mengecek nomor registernya. Sebab, catatan nikah sudah komputerisasi. Selain itu, keaslian buku nikah bisa dilihat dari hologramnya. "Intinya, nggak bisa begitu saja mengeluarkan (buku nikah). Yang penting itu data di sistem. Kalau kejadian seperti itu, bisa dibilang juga buku nikahnya palsu," pungkasnya.

Ulasan selengkapnya dapat Anda baca di detikX edisi "Bisnis Nikah Bodong Ustaz Cirebon"
(ddg/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed