Setiap hari warga terpaksa menggunakan air empang yang asin untuk kebutuhan mencuci piring, bahkan untuk mandi. Mereka mencampur air empang itu dengan air bersih yang mereka beli dari pedagang air ataupun bantuan air bersih dari berbagai organisasi sosial, yang belum mencukupi kebutuhan air bersih mereka.
Untuk mendapatkan air yang tidak terlalu asin, warga pun terpaksa berjalan kaki sejauh 2 kilometer untuk mengangkut air menggunakan ember yang mereka junjung. Bagi warga, rutinitas seperti itu sudah menjadi hal yang biasa mereka lakukan selama ini, karena sumur yang berada dekat dengan rumah mereka kering sejak beberapa bulan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga berharap, musim kemarau ini bisa segera berlalu agar kekeringan yang mereka alami juga bisa teratasi. Pasalnya, satu-satunya sumber air bersih yang mereka andalkan hanyalah air hujan yang mereka tampung.
"Mudah-mudahan hujan segera turun biar kami tidak kesulitan lagi dengan air bersih. Kami memang hanya bisa mengandalkan air hujan untuk kebutuhan air bersih. Makanya di sini hampir setiap rumah memiliki bak penampungan untuk air hujan," sebutnya.
Selain itu, warga sangat berharap pemerintah memberikan solusi atas kekeringan yang mereka alami setiap tahun. Bukan hanya membeli mobil tangki untuk mengangkut air, tapi juga menyediakan sumber air bersih yang bisa dilakukan dengan metode penyulingan.
"Kami yakin pemerintah bisalah memberikan solusi kepada kami ini. Biar tahun depan sudah tidak begini lagi,"ujarnya.
Selama ini, kebutuhan air bersih bagi warga memang hanya bisa diperoleh dengan membeli ataupun menunggu bantuan air bersih. Terkadang, setiap ada bantuan air bersih, warga harus berebut air karena takut tidak kebagian jatah. Baik air yang dijual ataupun yang dibagikan gratis diambil dari Kecamatan Bantimurung, yang jaraknya cukup jauh dari lokasi kekeringan dan diangkut menggunakan mobil tangki 5.000 liter. (asp/asp)











































