Titik Api di Riau Naik Drastis, Seminggu Capai 772 Lokasi

Titik Api di Riau Naik Drastis, Seminggu Capai 772 Lokasi

- detikNews
Sabtu, 13 Agu 2005 17:32 WIB
Jakarta - Meski diprotes habis-habisan oleh pemerintah Malaysia, pembakaran hutan di wilayah Sumatra dan Kalimantan belum menurun tensinya. Bahkan di Provinsi Riau, titik api meningkat drastis. Dalam seminggu terakhir tercatat 772 lokasi titik api.Aktivitas pembakaran hutan itu dilakukan oleh pengusaha Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan sawit, dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH)."Karena itu perlu tindakan nyata pemerintah. Harus ada sanksi tegas," kata Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau M Teguh Surya dalam jumpa pers di Kantor Walhi, Jalan Tegal Parang Utara, Jakarta, Sabtu (13/8/2005).Dari pantauan Wahli di Riau melalui Satelite Terra milik NASA, sejak 3 Agustus-10 Agustus 2005 titik api telah mencapai 772. Sebanyak 185 titik api terdapat di HTI, 273 titik api di perkebunan sawit, dan 314 titip api di HPH. Angka ini melonjak drastis dibanding data 27 Juli-3 Agustus. Dalam periode ini titik api hanya ada di 244 lokasi."Kita sudah sering datangi gubernur Riau agar pemda memberi tindakan tegas bagi pelaku pembakaran hutan. Kita juga menyodorkan data pendukung," kata teguh yang didampingi Deputi Direktur Walhi Farah Sova.Sayang, upaya yang dilakukan Walhi tidak digubris. Sejauh ini perusahaan yang melakukan pembakaran hutan tidak mendapat sanksi apa-apa. Baru ada satu kasus yang ditindaklanjuti pada tahun 2001 lalu. Saat itu pemilik PT AD dimejahijaukan dan mendapat vonis dua tahun penjara. "Itu atas desakan Malaysia. Tapi selebihnya tidak ada. Jadi sudah saatnya pemerintah mengumumkan nama perusahaan pembakar hutan dan menindak mereka. Karena 60 persen dari perusahaan yang memiliki izin melakukan ini," kata Teguh.Aksi pembakaran hutan yang terjadi di Riau, lanjut Teguh, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Antara lain, faktor alam. Setiap pergantian musim biasanya ada aksi pembakaran hutan. Sebelumnya siklus pembakaran hutan terjadi 4-5 tahun. Namun belakangan ini, pembakaran rutin dilakukan setiap tahun.Faktor lain adalah faktor konversi yang menuntut HPH, HTI atau perkebunan sawit membakar hutan untuk membuka lahan baru. "Pembakaran hutan diyakini mampu menetralkan tingkat keasaman lahan gambut, sehingga sawit mudah tumbuh," katanya. (umi/)


Berita Terkait