DetikNews
Senin 17 September 2018, 17:19 WIB

Saksi Ini Bela Ahmad Dhani soal Cuitan tentang Ahok

Zunita Amalia Putri - detikNews
Saksi Ini Bela Ahmad Dhani soal Cuitan tentang Ahok Sidang lanjutan Ahmad Dhani terkait kasus ujaran kebencian. (Zunita/detikcom)
Jakarta - Terdakwa kasus ujaran kebencian, Ahmad Dhani, menghadirkan saksi meringankan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saksi Fahrul Fauzi Putra, yang dihadirkan, mengaku tweet Ahmad Dhani mengenai Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu ditulis dirinya.

Awalnya, pengacara menanyakan bagaimana Fahrul mengenal Ahmad Dhani. Fahrul mengaku mengenal Dhani saat mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Bekasi pada 2017. Karena itulah dia mendapat kepercayaan Dhani untuk memegang telepon genggamnya.

"Apa kaitannya Anda dengan Twitter yang dibuat 7 Februari 2017 pukul 08.14 WIB, yang menuliskan 'yang menistakan agama si Ahok, yang diadili KH Ma'ruf Amin', apa benar Anda yang nulis?" tanya pengacara Dhani, Hendarsam, saat persidangan di PN Jaksel, Jalan Ampera Raya, Senin (17/9/2018).

"Sangat benar, karena pada waktu itu secara fatwa yang penista Bapak Ahok selaku terdakwa, akan tetapi yang diadili menurut saya Kiai Haji Maruf Amin," jawab Fahrul.


Dia menjelaskan tweet tersebut ditulisnya di aplikasi WhatsApp untuk dikirimkan kepada Bimo, yang bertugas sebagai admin Twitter Ahmad Dhani. Bimo lalu mem-posting tulisan itu di akun Twitter Dhani.

Fahrul juga mengaku tidak perlu meminta konfirmasi kepada Dhani terkait semua cuitan yang akan dia buat.

"Seingat aku, setiap aku ketik itu nggak pernah confirm ke Pakde Dhani, yang penting sejalur dengan pemikiran dia ya sudah saya tulis gitu," jelas Fahrul.

Jaksa Yanti lalu mempertanyakan alasan Fahrul menulis kata-kata tersebut untuk Twitter Dhani. Padahal Fahrul mengaku memiliki akun medsos sendiri.

"Tweet dari Saudara itu dasarnya apa, Saudara tulis kalimat itu, lalu nanti di-posting itu dasarnya apa?" cecar Yanti.

"Pada saat itu yang aku nilai yang menista agama itu Pak Ahok, tapi yang diadili Kiai Ma'ruf," jawab Fahrul.

"Kalau Anda punya akun medsos, kenapa nggak pakai akun medsos sendiri?" tanya Yanti lagi.

"Karena aku yakin semua yang aku pikirkan sama kayak pikiran Mas Dhani," ungkapnya.


Mendengar pernyataan itu, hakim Ratmoho juga menanyakan kapan tepatnya Fahrul mengetik kalimat itu. Hakim Ratmohon ingin menyesuaikan.

"Pada saat Saudara ngetik kalimat itu jam berapa? Karena saya ingin cocokkan dengan jam tweet yang diunggah di sini," tanya hakim Ratmoho.

"Seingat aku antara pagi sampai siang. Memang di saat itu lagi anget-angetnya lihat nonton berita," imbuh Fahrul.

"HP Dhani ada di kantong mana? Karena biasanya orang ketika tebersit ingin membuat kalimat biasanya ngambil milik sendiri, nah handphone kamu emang di mana?" tutur Ratmoho.

"HP saya ada di celana kantong dan HP Mas Dhani di saku aku, jadi langsung pake HP Mas Dhani aja terus kirim ke Bimo untuk di-posting," ucap Fahrul.


Ahmad Dhani Sebut Cuitannya Bukan untuk Ahok, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]



Fahrul mengatakan kalimat tersebut tebersit saja di pikirannya. Sebab, dia geram atas kasus Ahok saat itu.

Dia mengaku tidak tahu dampak kalimat yang ditulisnya mengenai Ahok. Sebab, sejak tweet itu di-posting, sampai saat ini pun Dhani tidak pernah memprotes kalimat tweet yang dibuatnya itu.

Diketahui, Ada tiga cuitan yang diunggah di akun Twitter Ahmad Dhani, @AHMADDHANIPRAST. Cuitan ini diunggah admin Twitter Ahmad Dhani, Bimo. Salah satunya, Ahmad Dhani menurut jaksa mengirimkan tulisan lewat WhatsApp pada 7 Februari 2017 ke Bimo. Tulisan tersebut di-posting Bimo di akun Twitter Ahmad Dhani.

"Saksi Bimo menyalin persis seperti apa yang dikirim terdakwa dan mengunggah ke akun Twitter terdakwa, @AHMADDHANIPRAST, yang menuliskan: Yang menistakan agama si Ahok...yang diadili KH Ma'ruf Amin...," sebut jaksa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jaksel, Senin (16/4).

Ahmad Dhani didakwa dengan Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang ITE juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).





(zap/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed