ICW: Pembenahan Lapas di Era Jokowi Tak Serius

ADVERTISEMENT

ICW: Pembenahan Lapas di Era Jokowi Tak Serius

Isal Mawardi - detikNews
Minggu, 16 Sep 2018 16:25 WIB
Lapas Sukamiskin (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)
Jakarta - Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai Menkum HAM Yasonna Laoly harus mundur terkait terungkapnya sel mewah Setya Novanto di Lapas Sukamiskin. Selain itu, ICW juga menyoroti soal pembenahan lapas yang tak serius di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Sekali lagi ini masalah persoalan laten, di zaman SBY terjadi, di zaman Jokowi terjadi tetapi pembenahannya tidak serius," kata Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Donal Fariz di kantor ICW, Jalan Kalibata Timur IV, Jakarta Selatan, Minggu (16/9/2018).


"Saya menilai selama ini tidak ada reformasi serius di lapas kita, tidak hanya korupsi tapi juga orang bisa transaksi narkotika, bahkan di kasus Fredi dia tidak hanya transaksi tapi juga pabrik di Lapas," tuturnya.

ICW: Pembenahan Lapas di Era Jokowi Tak SeriusDonal Fariz (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Donal menduga, praktek lapas mewah untuk koruptor tak hanya ada di Lapas Sukamiskin. Hanya saja di tempat lain belum ter-blow-up.

"Perbaikan hanya secara insidentil saja, akar permasalahannya tidak.diperbaiki. Mengganti kepala lapas tidak jadi solusi ampuh untuk terjadinya praktek diskriminatif. Saya meyakini praktik ini tidak hanya terjadi di Sukamiskin saja tapi banyak lapas lain yang menerapkan sesuatu yang sama di lapas lapas daerah lain," ujar Donald.


Sebelumnya peneliti ICW Lalola Easter mendesak Yasonna H Laoly mundur dari jabatan Menkumham. Menurut Lalola, persoalan sel mewah ini tak cukup bila mengganti Dirjen PAS.

"Ya, sebenarnya bukan hanya Dirjen PAS saja, menterinya juga harus mundur, seharusnya. Itu kan desakan kita dari lama," kata Lalola saat diwawancarai detikcom, Sabtu (15/9/2018) malam.

"Ini kan semacam akumulasi juga bahwa bukan hanya Dirjen PAS-nya, Menkumham-nya juga already quit, begitu ya, karena nggak mampulah menuntaskan masalah yang ada di situ," imbuhnya. (rna/dhn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT