"Alun-alun kalau diubah bentuknya memang tidak bagus, bagaimanapun ruang publik buat pertemuan atau acara bagus. Masjid memang seharusnya berdampingan dengan alun-alun," kata Bambang kepada detikcom di Serang, Banten, Sabtu (15/9/2018).
Ia memberi saran, jika ingin membangun masjid agung dekat alun-alun, pihak pemkot bisa bernegosiasi dengan bangunan yang ada di sekitarnya. Misalnya mengganti salah satu mal dan hotel yang ada di dekat alun-alun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saran saya kalau mau diini (dibangun) mungkin kalau nggak Ramayana kalau nggak hotel bisa dipindah itu lebih bagus. Bagaimana pemerintah (kota) mengadakan ruislagnya (tukar guling). Tapi alun-alun jangan dihilangkan atau dikurangi" katanya.
Alun-alun selama ini menurutnya selain digunakan sebagai ruang publik, juga sebagai penghijauan di tengah kota.
"Jadi kearifan lokal terjaga, saran saya seperti itu," tambahnya.
Ia sendiri tidak mempermasalahkan mengenai pembangunan masjid. Justru ia memang menyarankan ada masjid di dekat alun-alun. Apalagi, Kota Serang selama ini tidak memiliki masjid agung dekat alun-alun.
"Pembangunan masjid tidak masalah. Justru kita harapkan seperti itu karena saya sering kasih pencerahan hanya Kota Serang yang tidak memiliki masjid dekat alun-alun," ujarnya.
Di akhir masa jabatan sebagai wali kota, Tubagus Haerul Jaman ingin mengubah Alun-alun Barat Kota Serang jadi masjid agung. Peletakan batu pertama telah dilakukan pada Kamis (13/9) kemarin. Anggaran untuk membangun masjid ini diperkirakan sampai Rp 80 miliar. (bri/jbr)











































