Korban DBD di RS Budhi Asih Terus Bertambah Jadi 49 Orang

Korban DBD di RS Budhi Asih Terus Bertambah Jadi 49 Orang

- detikNews
Jumat, 12 Agu 2005 11:23 WIB
Jakarta - Korban demam berdarah dengue (BDB) di RS Budhi Asih terus meningkat. Hingga Jumat (12/8/2005), korban gigitan nyamuk aides aegepty yang dirawat di rumah sakit ini mencapai 49 orang. Padahal Kamis kemarin, jumlahnya sempat berkurang karena 12 pasien sudah diperbolehkan pulang."Tapi sejak semalam hingga pagi ini bertambah 15 orang lagi yang masuk," ungkap Kepala Sub Seksi Rawat Inap RS Budhi Asih Dr Taufik R kepada detikcom di RS Budhi Asih, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur.Korban yang kini dirawat sebagian besar orang dewasa, yakni 31 orang dan sisanya sebanyak 18 orang adalah anak-anak. Demikian data yang diperoleh per pukul 08.45 WIB.Jumlah pasien DBD ini telah melampaui kapasitas ruang rawat inap rumah sakit tersebut, sehingga mereka dirawat dengan menggunakan fasilitas tambahan berupa veltbed. "Veltbed yang sudah dipakai sekarang mencapai 20 unit," kata Taufik.Meski jumlah korban terus bertambah, sejauh ini RS Budhi Asih belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). "Sampai saat ini statusnya baru siaga. Selama 24 jam kita siaga menampung dan merawat pasien. Kita belum tetapkan KLB," katanya.Untuk mengatasi korban DBD, pihak rumah sakit sudah menyiapkan peralatan dan obat-obatan sejak Februari 2005 lalu. Total penderita DBD yang dirawat di RS Budhi Asih pada Januari-Juli 2005 tercatat 1.124 orang.Rinciannya, Januari sebanyak 63 pasien (30 anak dan 33 dewasa), Februari sebanyak 261 pasien (109 anak dan 152 dewasa), Maret sebanyak 260 pasien (61 anak dan 199 dewasa), April sebanyak 145 pasien (58 anak dan 87 dewasa), Mei sebanyak 165 pasien (67 anak dan 98 dewasa), Juni sebanyak 106 pasien (42 anak dan 64 dewasa), dan Juli sebanyak 124 pasien (44 anak dan 80 dewasa). Sedangkan data Agustus hingga kini belum bisa dikonfirmasi mengingat jumlah korban masih terus bertambah.Dari total penderita, korban meninggal tercatat 26 orang dan kebanyakan anak-anak. "Kebanyakan karena penyakitnya sudah terlalu berat dan biasanya mereka telat dibawa ke rumah sakit dengan pertimbangan alasan ekonomi. Mereka tidak tahu, padahal korban DBD dapat perawatan dan pengobatan gratis," papar Taufik. (umi/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads