DetikNews
Senin 10 September 2018, 22:33 WIB

PD Diklaim Kubu Jokowi, PPP Diklaim Kubu Prabowo

Gibran Maulana Ibrahim, Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
PD Diklaim Kubu Jokowi, PPP Diklaim Kubu Prabowo Ilustrasi Demokrat 'Main Dua Kaki'? (Nadia Permatasari/detikcom)
Jakarta - Tahapan Pilpres 2019 terus berjalan. Aksi klaim dukungan terjadi di kubu Joko Widodo-Ma'ruf Amin, begitu juga di kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Partai Demokrat (PD) sempat diklaim akan merapat ke kubu Jokowi-Ma'ruf. Padahal Demokrat ikut saat pendaftaran Prabowo-Sandiaga ke KPU.

Isu ini berawal dari beberapa DPD yang menyatakan mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf. Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief mengatakan setidaknya ada 5 wilayah DPD Demokrat yang menaruh simpati cukup besar kepada Joko Widodo (Jokowi).


"Papua, kemudian ada Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua Barat, Sulawesi Utara, dan Bali," kata Andi Arief saat dihubungi detikcom, Minggu (9/9/2018).

Andi mengatakan, dari lima wilayah tersebut, baru Papua yang meminta dispensasi untuk mendukung Jokowi-Ma'ruf pada Pilpres 2019. Sedangkan empat wilayah lainnya baru berpotensi meminta dispensasi. Kecenderungan politik di keempat wilayah ini didasari survei dan polling internal yang dilakukan DPP.

Soal dukungan ini sempat membuat PD 'main dua kaki'. Namun Andi membantah. Dia mengatakan sikap mengizinkan kadernya atau DPD mendukung Jokowi bukan karena partainya main dua kaki di Pilpres 2019.


Namun kepentingan elektoral para kadernya di wilayah tersebut menjadi pertimbangan. Hal ini, kata Andi, sudah disampaikan ke Prabowo.

"Pertama, di sana kan, kader-kader kita juga perlu modal pendukungnya juga, kita ada kepentingan elektoral. Kedua, hasil survei di sana menunjukkan itu memang bukan basis Pak Prabowo, jadi kita nggak mungkin kalah dua-duanya. Pak Prabowo kalah di sana, kader kita juga kehilangan kesempatan di sana," tutur Andi.

Demokrat juga pernah menyatakan siap memberi masukan kepada pemerintah soal pelemahan rupiah. Hanura memandang sikap itu diambil partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut karena tak nyaman berada di koalisi Prabowo Subianto.


"Demokrat sedang cari teman karena tidak nyaman di koalisi Prabowo, yang mungkin saja mereka nilai tidak komit," ujar Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir, Jumat (7/9).

Wakil Ketua Timses Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, mengatakan timnya akan menempatkan gubernur daerah yang mendukung Jokowi sebagai pengarah teritorial. Mereka bertugas memberikan arahan kepada tim kampanye daerah.

Dua nama yang sudah disebut Karding adalah Gubernur Papua Lukas Enembe dan Gubernur Banten Wahidin Halim. Karding mengatakan tugas pengarah teritorial hanya memberi masukan-masukan penting untuk dilaksanakan tim kampanye.


Sementara itu, Ketua DPP Gerindra Habiburokhman mengklaim ada banyak kader PPP yang mendukung Prabowo-Sandiaga. Dia mengatakan ada banyak caleg PPP yang mendukung Prabowo-Sandiaga.

"Partai pendukung Pak Jokowi, misalnya PPP, yang ternyata grassroot-nya mendukung presiden Pak Prabowo," ujar Habiburokhman, Senin (10/9).


Hal serupa dikatakan Waketum Partai Gerindra Fadli Zon. Fadli memandang akar rumput PPP tak mengikuti keputusan DPP mengusung Jokowi-Ma'ruf.

"Saya kira juga sama deh di sana, coba kita tanya sama partai pendukung, misalnya PPP. Ada juga yang kita temu di bawah-bawahnya tidak satu komando," ujar Fadli.


PPP membantah Gerindra. Sekjen PPP Arsul Sani menyebut Gerindra tengah menghibur diri karena tengah dilanda dilema. Arsul menanggapi klaim tersebut dengan tertawa.

"Gerindra sedang menghibur diri karena banyak ditinggal struktur dan akar rumput Partai Demokrat. Maka supaya ada hiburannya, ya bilang bahwa banyak kader PPP dukung Prabowo-Sandi," ujar Arsul, Senin (10/9).
(jbr/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed