Saat itu Srimulat sudah dua tahun hijrah dari Solo ke Surabaya. Tak cuma para pelawak dan awak Srimulat yang boyongan ke Surabaya, tapi juga berikut semua anggota keluarganya. Boyongan Srimulat besar-besaran ini juga merupakan ide dari Srimulat. Melihat situasi politik di Solo makin panas, Srimulat merasa kelompok mereka harus pindah jika ingin bertahan hidup.
"Situasi negara sedang gonjang-ganjing. Sebaiknya seluruh anak panggung dan artis kita pindah ke Surabaya," Srimulat menyampaikan usulnya ke Teguh. Teguh tentu saja kaget bukan kepalang mendengar ide istrinya. Memindahkan belasan orang saja sudah sulit, apalagi memindahkan puluhan anggota Srimulat. Tapi Srimulat terus meyakinkan Teguh. "Jika mereka tak pindah ke Surabaya, aku takut mereka akan jadi korban."
Ketika itu, gesekan antara kelompok-kelompok 'kiri' dengan lawan-lawan politiknya makin sering terjadi. Masing-masing kelompok berusaha menarik sebanyak mungkin pendukung ke kubunya. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang punya hubungan dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sudah lama 'memepet' Srimulat agar mau bergabung dengan Lekra. Srimulat dan Teguh, yang memang tak tertarik dengan politik, tak mau terseret dalam perkubuan itu. Agar tak terus diganggu, Srimulat mencari perlindungan kepada tentara.
Bagaimana kisah Srimulat melewati badai, simak kisah lengkapnya di detikX, Hijrah Srimulat dan Kisah Keris Asmuni (pal/sap)











































