DetikNews
Senin 10 September 2018, 13:18 WIB

Aktivis Demo KLHK Coret Murai Batu-Cucak Rawa dari Hewan Dilindungi

Nur Azizah - detikNews
Aktivis Demo KLHK Coret Murai Batu-Cucak Rawa dari Hewan Dilindungi Foto: Demo di depan kantor KLHK (Nur Azizah/detikcom)
Jakarta - Belasan orang aktivis menggelar demo di depan kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Mereka memprotes burung murai batu, cucak rawa hingga jalak suren dikeluarkan dari daftar hewan yang dilindungi.

Sekitar 15 orang aktivis dari Yayasan Terbang Indonesia atau Flight berdemo di depan kantor KLHK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Senin (10/9/2018). Mereka mengenakan kaos warna putih membawa beraneka spanduk dan poster.

Spanduk yang dibawa bertuliskan 'Tolak Dikeluarkannya Murai Batu, Jalak Suren, dan Cucak Rowo dari Daftar Status Dilindungi' serta poster-poster bertuliskan 'Biarkan Burung Bebas Terbang di Alam' dan 'Song Birds Belong in The Wild Not in The Cage'. Direktur Flight Marison Guciano berorasi.

"Burung kicau bukan hewan peliharaan. Biarkan burung kicau di alam. Banyak burung-burung kicau yang berasal dari alam kemudian masuk ke breeding. Mari kita tolak izin breeding untuk komersial. Kita minta KLHK konsisten untuk melindungi burung-burung di Indonesia. Selama ini pemerintah kurang dalam pengawasan burung kicau. Banyak burung kicau berasal dari alam sehingga burung kicau populasinya semakin berkurang. Mari kita tolak burung cucak rawa, murai batu, dan jalak suren dikeluarkan dari daftar dilindungi. Populasinya di alam sudah semakin berkurang. Apakah teman-teman setuju untuk melundunginya?," kata Marison.


"Setuju!" teriak massa.

Dikatakan Marison, dirinya berharap KLHK tidak mau ditekan oleh orang-orang yang mengaku breeder atau peternak dengan dikeluarkannya burung-burung tersebut dari daftar hewan yang dilindungi. Apalagi menurutnya sejak tahun 2.000 populasi burung-burung kicau yang hidup di alam liar sudah berkurang lebih dari 50 persen.

"Kita meminta KLHK untuk tidak takut menghadapi tekanan para penghobi burung. Karena apa yang mereka lakukan adalah bentuk kekejaman kepada satwa. Burung dikurung di sangkar hanya untuk didengar nyanyiannnya. Itu adalah bentuk kekejaman. Kita menolak dikeluarkannya burung cucak rawa, murai batu, dan jalak suren dari daftar status yang dilindungi karena burung-burung tersebut populasinya sudah jauh menurun di alam. KLHK jangan mau tunduk di bawah tekanan orang-orang yang mengaku breeder," ucap Marison.

Marison menilai selama ini pengawasan pemerintah terhadap peredaran burung kicau, khususnya yang dilindungi, masih lemah. Menurutnya sangat mudah menjumpai burung-burung tersebut dijual di pasar-pasar satwa.

Pihak KLHK kemudian datang menemui massa dan menerima aspirasi yang disampaikan. Kasie Monitoring Sumber Daya Genetik KKH KLHK, Widodo, mengatakan, ketiga burung yang dimaksud memang sudah dikeluarkan dari daftar hewan yang dilindungi dan dalam proses diundangkan.

Aktivis Demo KLHK Coret Murai Batu-Cucak Rawa dari Hewan DilindungiFoto: Massa yang berdemo ditemui pihak KLHK (Nur Azizah/detikcom)

"Itu sudah final dari hasil pertimbangan kita ya. Mungkin tinggal menunggu sign-nya, diundangkan," ujarnya.

Widodo mengatakan, dikeluarkannya ketiga burung tersebut dari daftar hewan dilindungi sudah melalui berbagai pertimbangan. Salah satunya menurutnya karena populasinya dari hasil budidaya di masyarakat tergolong banyak.


"Pertimbangannya satu ternyata kan potensi yang ada di masyarakat itu juga harus dianggap sebagai peluang untuk bisa menambah populasi di alam. Jadi ternyata kan ada data, ketika menetapkan jenis-jenis itu masuk dilindungi atau tidak atau sebaliknya, itu kan ada pertimbangan. Scientific based. Pertimbangannya adalah ketersediaan kelimpahan populasi di alam, kemudian endemik sebarannya terbatas. Kan itu aja. Ternyata ada data populasi nih, walaupun tidak di alam. Populasinya di mana? Di tempat budidaya. Banyak ini, semua datanya diserahkan kepada kita," jelasnya.

"Masalahnya data yang banyak ini kan belum re-stocking ke alam. Ini perlu proses. Belum tentu lho, kita memelihara 2, jadi 100, kita kembalikan ke alam juga belum tentu hidup 100. Kan ada proses adaptasi, penyakit, dan sebagainya. Tapi by doing mereka adalah potensi untuk bisa membantu kita. Kita sendiri membantu nanti, di dalam permen itu memperkuat yang di alam bagaimana caranya, jangan lengah. Jangan sampai kepada pasar burung, tempat hobi kicau, jangan sampai berasal lagi dari genetik di alam. Kita tegaskan di situ," sambung Widodo.


(hri/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed