Suami Kabur, Istri Idap TBC, Bayinya Alami Gizi Buruk
Kamis, 11 Agu 2005 13:04 WIB
Makassar - Sungguh malang nasib Wati (23). Dulu, Wati nekat kawin lari dengan suaminya, Latief. Tapi, saat ini Latief malah kabur, meninggalkannya. Wati bertambah malang. Kini, dia mengidap TBC, sementara bayinya mengalami gizi buruk. Jasen, bayi berumur 1 tahun 4 bulan, buah cinta Wati dan Latief yang menderita gizi buruk dan infeksi paru-paru itu, kini sudah mulai tersenyum. Namun, Wati (23) belum juga mengambilnya dari Rumah Sakit (RS) karena tak mampu merawat anaknya itu. Wati masih mengidap TBC. Saat pertama kali dibawa ke RS pada 26 Juni 2005 lalu, berat Jasen hanya 4,2 kilogram. Kini beratnya sudah mencapai 6,8 kilogram. "Berat normal bayi seusianya harusnya 9 kilogram. Tapi ini sudah mendingan dibanding pertama kali ia masuk di sini," ujar Rita, suster yang merawatnya, saat ditemui detikcom, Kamis (11/8/2005). Selain mengidap TBC, Wati juga belum mempunyai tempat tinggal yang tetap. "Kondisi ibunya memprihatinkan. Sampai sekarang dia (Wati) baru dua kali menjenguk anaknya," terang Rita. Selain itu, Wati tinggal di kos-kosannya, sendiri. Suaminya, Latief, meninggalkan Wati dan kini entah di mana. "Suaminya meninggalkannya. Belum lagi, keluarganya di Makassar juga tidak ada," tutur Rita. Wati, ibu muda itu, sebenarnya punya keluarga di kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel). Namun karena ia nekat kawin lari dengan Latief, ia pun meninggalkan kampung halamannya dan tinggal di Makassar. Tapi tak tahunya, Latief yang berasal dari Jeneponto, malah kabur meninggalkannya. Wati pun harus menanggung biaya hidupnya sendiri. Namun dengan penyakit yang dia idap, TBC, membuatnya tak mudah mendapat pekerjaan. "Sekarang dia hanya kerja membantu nyucikan pakaian orang, tapi dia jarang datang. Malah kalo dia datang, kami ngasih uang ke dia (Wati)," terang Rita. Kini, Jasen hanya mendapat bantuan dari suster yang merawatnya. Bahkan di ruang perawatan khusus bayi, Jasen menjadi 'kesayangan' baru para Suster. "Dia kan ditinggal ibunya. Makanya suster di sini pada sayang semua. Saat pertama masuk bajunya cuma satu, sekarang sudah satu lemari. Suster semuanya nyumbang, juga ada dari dokter," tutur Rita. Biaya perawatan Jasen ditanggung oleh dana JPS.
(asy/)











































