"Kalau terkait mengelola ekonomi di bangsa ini serahkan saja kepada partai yang sudah pernah punya pengalaman dan terbukti sukses melewati badai krisis. Hanura kan tidak pernah punya pengalaman itu. Jadi tak usah ikut ikutan komentar lah, apalagi menyudut-nyudutkan Demokrat," kata ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon kepada detikcom, Sabtu (8/9/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fokus ngurusi Partai Hanura sajalah. Beresin itu pencalegan yang kata KPU banyak belum memenuhi syarat agar bisa ikut kompetisi di Pileg besok sehingga Hanura tidak padam dan bisa lolos presidential threshold 4 persen," imbuhnya.
Soal tawaran memberi masukan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin, Demokrat menyebut itu karena mereka punya pengalaman di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun Demokrat juga takkan mempermasalahkan jika saran mereka tak diterima.
"Untuk itulah sebagai partai yang pernah mengelola ekonomi bangsa ini dan membawa Indonesia melewati badai krisis di tahun 2008, jika dibutuhkan kami siap memberikan masukan. Jika pun tidak dimana pemerintah sekarang merasa mampu sendiri menyelesaikan krisis ini, bagi kami Demokrat tidak ada masalah. Silahkan lanjutkan," pungkasnya.
Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir sebelumnya Demokrat sengaja memanfaatkan isu pelemahan rupiah untuk mendekati Jokowi. Bagi Inas, Demokrat ingin menjadi bagian pemerintahan Jokowi pada 2019-2024 andai sang petahana presiden terpilih kembali.
"Lalu pelemahan rupiah mau dijadikan pintu masuk untuk mendekati Jokowi dengan seolah-olah memberi masukan tapi ada 'udang di balik bakwan', yakni berharap memperoleh jatah menteri," Jumat (7/9/2018).
Simak Juga 'PD Pastikan Tidak Abstain di Pilpres 2019':
(abw/jor)











































