Rupiah Melemah, Ini Pernyataan Sikap Koalisi Prabowo-Sandiaga

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 07 Sep 2018 20:58 WIB
Koalisi Prabowo-Sandiaga (Marlinda/detikcom)
Jakarta - Koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyampaikan sikap resmi terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Koalisi yang terdiri dari Gerindra-PAN-PKS-Demokrat itu merasa prihatin atas kondisi rupiah saat ini.

Penyampaian sikap resmi koalisi Prabowo-Sandiaga itu digelar di kediaman Prabowo, Jl Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/9/2018). Ada 4 sikap yang disampaikan koalisi Prabowo-Sandiaga.


"Kami amat prihatin dengan melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan, yang tentunya memberatkan perekonomian nasional, khususnya rakyat kecil, yang cepat atau lambat harus menanggung kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, termasuk harga kebutuhan makanan sehari-hari rakyat kecil, seperti tahu, tempe," kata Sandiaga.

Kemudian, kata Sandiaga, berdasarkan pembahasan bersama para ekonom dan pimpinan parpol koalisi, melemahnya kurs rupiah ini disebabkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Yakni, terjadinya defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.


"Sektor manufacturing yang menurun dan pertumbuhan sektor manufacturing yang di bawah pertumbuhan ekonomi. Sektor manufacturing yang pernah mencapai hampir 30% PDB pada tahun 1997, sekarang tinggal 19% PDB. Hal ini tentu mengganggu ketersediaan lapangan kerja dan ekspor kita," ujarnya.

Selanjutnya, Sandiaga mengatakan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia juga tidak terlepas dari kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi. Dia menyebut pemerintah gagal mendayagunakan kekuatan ekonomi rakyat.


"Sehingga kebutuhan pangan semakin tergantung pada impor, seperti beras, gula, garam, bawang putih, dan lain-lain," tutur Sandiaga.

Sandiaga mengatakan, berdasarkan hal itu, koalisi menyarankan pemerintah lebih waspada dan mengambil langkah konkret agar keadaan perekonomian Indonesia, khususnya melemahnya nilai tukar rupiah, bisa diatasi. Di mana salah satu caranya mendayagunakan ekonomi nasional untuk mengurangi impor.

"Impor pangan dan impor barang konsumsi yang tidak urgen, bersifat pemborosan, dan barang mewah yang ikut mendorong kenaikan harga harga bahan pokok. (Kemudian) mengurangi secara signifikan pengeluaran pengeluaran APBN dan APBD yang bersifat konsumtif, seremonial, dan yang tidak mendorong penciptaan lapangan kerja," tuturnya.

Pernyataan sikap ini digelar setelah Prabowo dan Sandiaga bersama Ketum PAN Zulkifli Hasan, Presiden PKS Sohibul Iman, serta mantan Menko Perekonomian sekaligus mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah menggelar pertemuan selama kurang-lebih tiga jam. Dalam pertemuan tersebut, Ketum PD ataupun perwakilannya tak dapat hadir. (mae/zak)