DetikNews
Selasa 04 September 2018, 22:30 WIB

Serangan Tajam Prabowo ke Jokowi: Utang Rp 1 T Per Hari

Muhammad Fida Ul Haq, Noval Dhwinuari Antony, Indra Komara - detikNews
Serangan Tajam Prabowo ke Jokowi: Utang Rp 1 T Per Hari Jokowi dan Prabowo Subianto (Foto: dokumentasi detikcom)
Jakarta - Bakal capres Prabowo Subianto melemparkan kritik tajam ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal utang negara yang naik Rp 1 triliun setiap hari. Tanpa menyebutkan sumber rujukannya soal utang itu, Prabowo mengingatkan bahwa utang mengancam kedaulatan negara.

"Utang pemerintah kita naik terus, sekarang hitungannya naiknya Rp 1 triliun setiap hari," kata Prabowo dalam sambutan acara diskusi buku 'Paradoks Indonesia' di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Prabowo mengatakan banyak yang tidak mengkhawatirkan utang tersebut. Padahal, menurutnya, utang tersebut dapat mengancam kedaulatan negara.

"Utang mengancam kedaulatan negara kita," ujarnya.


Wapres Jusuf Kalla (JK) pun angkat bicara soal manuver Prabowo ini. JK mengatakan kenaikan utang Indonesia tak dihitung per hari. JK juga memastikan utang Indonesia itu tetap bisa dibayar.

"Jadi bukan soal (naik) Rp 1 triliun (per hari), mampu kita bayar tidak? Sama dengan perusahaan. Karena itu, sekarang ini kita mampu membayarnya," ujar JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (4/9).

JK mengaku belum menghitung utang Indonesia yang disebut Ketum Gerindra Prabowo Subianto naik Rp 1 triliun per hari. Namun jumlah utang RI memang naik per tahun.

"Kita tidak hitung per hari, kita hitung tahunan. Begitu, kan. Ada tambahan Rp 200 triliun, ada mungkin Rp 300 (triliun). Selama kita bisa bayar, bukan urusan (jumlah) 'T'-nya, bisa bayar tidak? Kita bisa bayar," katanya.


JK menambahkan setiap negara selalu berutang untuk melakukan pembangunan. Namun setiap negara memiliki cara berbeda dalam mengambil utang.

"Amerika juga minjam, tapi minjamnya dengan cara cetak duit. Kalau Jepang minjamnya ambil dari dana pensiun. Karena kita tidak cetak duit terlalu banyak karena tidak laku di luar negeri, maka kita minjam dari World Bank dari perbankan-perbankan, itu biasa saja. Jumlahnya itu relatif, tergantung kemampuan," jelasnya.

Pernyataan Prabowo itu pun mendapat kritik dari partai koalisi pemerintah dari mempertanyakan sumber data hingga imbauan jangan asal tuduh. Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah bahkan menyindir Prabowo seperti rentenir karena menghitung utang harian.

"Prabowo kayak rentenir aja ngitung utang pakai harian, padahal setiap tahun ada pinjaman dan ada yang dibayar," ujar Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada detikcom, Selasa (4/9).


Partai Gerindra pun membela sang ketum yang diserang kritik. Ketua DPP Habiburokhman menegaskan tak perlu mempertanyakan rujukan data soal utang yang disebut Prabowo.

"Utang negara ini terus bertambah secara signifikan. Anda tak perlu tanyakan datanya dari mana, sebetulnya kita kan sudah tahu sendiri kalau tadinya 1 dolar Rp 14 ribu sekarang hampir Rp 15 ribu tentu aja sudah bertambah, logika sederhana aja," kata Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPP Gerindra Habiburokhman di Jalan Daksa No 10, Jakarta Selatan, Selasa (4/9).


Habiburokhman mengatakan Prabowo menyebutkan data sesuai dengan situasi ekonomi saat ini, salah satunya angka kemiskinan yang belum menurun. Dia pun mengingatkan pemerintah segera mencari solusi.

"Sekarang jangan saling menyalahkan, cari solusi ini, tanggung jawab pemerintah ini, negara sudah dalam keadaan demikian susah. Kami Gerindra nggak suka dolar naik, tapi pemerintah harus tunjukkan komitmen dan tanggung jawabnya jangan salahkan masa lalu, luar negeri, apalagi jangan salahkan lawan politik," pesannya.
(ams/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
BERITA TERBARU +