Dolar Makin Kuat, PAN Minta Jokowi Ambil Langkah Radikal

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Selasa, 04 Sep 2018 17:43 WIB
Ilustrasi Dolar AS (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah bergerak mendekati Rp 15.000 pada hari ini. PAN meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengambil langkah radikal.

"Demi kepentingan bersama, saya menyarankan Pak Jokowi mengambil langkah radikal," ujar Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN Dradjad Wibowo kepada detikcom, Selasa (4/9/2018).

Langkah radikal yang dimaksud Dradjad adalah merombak total tim ekonomi. Dradjad juga meminta Jokowi mengambil langkah jangka pendek yang lebih pro-bisnis.


"Tolong rombak total tim ekonomi, ambil langkah jangka pendek yang lebih pro-bisnis, dan perbaiki defisit. Pasar sudah memvonis jelek tim ekonomi," katanya.

Dradjad menilai selama ini tim ekonomi Jokowi lebih sibuk bicara ke media daripada kerja nyata memperbaiki tiga defisit negara yakni, defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan, dan defisit fiskal Indonesia.

"Jika ada masalah, mereka sering menyalahkan kondisi global. Memang ada faktor global seperti kenaikan suku bunga The Fed, harga minyak, atau efek psikologis Turki. Tapi harusnya, kita lebih fokus memperkuat kondisi dalam negeri," ujar Dradjad.

Di sisi lain, Dradjad juga menilai terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ini akan mempengaruhi elektabilitas Jokowi. Anjloknya rupiah, kata Dradjad, bisa dijadikan bola politik untuk menyerang pemerintah di bidang ekonomi.


"Namun di sisi lain sebagai ekonom, saya sangat khawatir terhadap efek bola salju dan efek domino dari anjloknya rupiah. Kurs rupiah sekarang adalah yang terendah, bahkan dibandingkan saat krisis ekonomi 1998," paparnya.

Dradjad juga mengaku khawatir bahwa terus melemahnya rupiah ini dapat memberikan efek bola salju dengan ambruknya kepercayaan pasar. Mengingat, langkah jangka pendek yang selama ini diambil pemerintah, BI dan OJK terbukti gagal menjaga rupiah.

"Cadangan devisa sudah anjlok hampir USD 14 miliar selama Januari-Juli 2018 saja. Per Agustus 2018 selama periode hanya 3 bulan, BI sudah 4 kali menaikkan bunga reverse repurchase 7 hari. Suku bunga pinjaman makin mempersulit pelaku usaha. Berbagai klaim keberhasilan dan ketahanan ekonomi terbukti gagal meyakinkan pasar. Ini berpotensi membuat rupiah makin terdepresiasi," tutur Dradjad.

"Efek dominonya, anjloknya rupiah akan menyulitkan banyak perusahaan dan rumah tangga. Mulai dari sektor perbankan hingga ritel dan makanan. Harga barang naik, dan seterusnya yang tidak perlu saya rinci," lanjutnya.


Anjloknya rupiah, kata Dradjad, juga seperti yang diproyeksikan para analis ekonomi. Para analis terutama asing sejak kuartal pertama 2018, disebutnya, telah mempromosikan rupiah akan turun ke selang Rp 14.900-15.000 dalam jangka waktu 12 bulan.

"Kepada klien saya, saya juga memberikan analisis yang sama. Jadi sebenarnya, rupiah anjlok lebih cepat dan lebih besar dari proyeksi para analis. Ini lebih mengkhawatirkan," kata Dradjad.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan. Ini terjadi karena tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, dan yang paling tinggi dan menyebabkan defisit adalah impor migas.

Dolar AS parkir di level Rp 14.930 pada penutupan perdagangan hari ini. Presiden Jokowi hari ini mengumpulkan beberapa pejabat negara yang berhubungan langsung dengan sektor ekonomi untuk membahas permasalahan itu. (mae/jbr)