Dolar Menguat, PPP Usul Pemerintah Kembali Galakkan 'Cinta Rupiah'

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Selasa, 04 Sep 2018 17:11 WIB
Ilustrasi (Robby Bernardi/detikcom)
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan hingga mendekati Rp 15 ribu per hari ini. PPP menilai hal ini menjadi peringatan bagi pemerintah.

"Tentu ini menjadi warning bagi pemerintah, tapi bukan berarti tamat," ujar Wasekjen PPP Ahmad Baidowi kepada detikcom, Selasa (4/9/2018).

Pria yang akrab disapa Awiek ini meminta pemerintah serius mengantisipasi nilai tukar rupiah yang terus melemah. Terobosan-terobosan agar rupiah kembali menguat perlu dilakukan.


"Misalnya kembali menggalakkan gerakan cinta rupiah," kata Awiek.

Awiek juga menyinggung krisis moneter 1997-1998. Menurutnya, meski nilai tukar rupiah dolar mendekati angka seperti krisis moneter pada waktu itu, dampak yang dirasakan saat ini tidak sama.

"Tapi kok dampaknya biasa-biasa saja. Perlu diingat bahwa tahun 1997-1998 itu terjadi lonjakan luar biasa dari kisaran Rp 2.500 menjadi Rp 16.800. Jadi saat itu terjadi kenaikan yang luar biasa, hampir 7 kali lipat, sehingga menyebabkan guncangan," tutur Awiek.

Gerakan cinta rupiah muncul 20 tahun lalu, tepatnya pada 1998. Saat itu perekonomian Indonesia dilanda krisis moneter atau yang dikenal dengan istilah krismon.


Ketika nilai rupiah terjun bebas, muncul gerakan cinta rupiah yang dikemas dalam lagu anak-anak. Lagu tersebut memiliki niat yang baik untuk menjadikan rupiah sebagai mata uang yang wajib digunakan pada setiap transaksi dan mengajak masyarakat melepaskan dolar yang dimiliki.

Dengan ajakan tersebut dan semakin banyak dolar yang dilepas, suplai dolar di pasar terpenuhi. Dengan begitu, nilai rupiah akan naik.

Gerakan cinta rupiah yang diprakarsai oleh putri Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana itu diiringi oleh munculnya lagu yang berjudul 'Aku Cinta Rupiah' yang dinyanyikan penyanyi cilik Cindy Senora.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan. Ini terjadi karena tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor, dan yang paling tinggi dan menyebabkan defisit adalah impor migas.

Pada perdagangan Reuters hari ini, nilai dolar AS sudah menyentuh Rp 14.897. Presiden Jokowi hari ini mengumpulkan beberapa pejabat negara yang berhubungan langsung dengan sektor ekonomi untuk membahas permasalahan itu. (mae/elz)