Harapan dan Nyinyiran Pelukan Jokowi-Prabowo

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Jumat, 31 Agu 2018 06:59 WIB
Foto: Momen Jokowi dan Prabowo berpelukan saat menonton Asian Games (Twitter Joko Widodo)
Jakarta - Pelukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto diharap dapat menghentikan keributan di tengah panasnya suhu politik jelang Pilpres 2019. Namun ada juga pihak yang memandang pelukan tersebut hanya pencitraan belaka, bahkan pelukan itu dipandang tidak akan menghentikan keributan antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo.

Perpolitikan tanah air memang tengah panas jelang Pilpres 2019. Keributan antara kubu Jokowi dan Prabowo terus terjadi, salah satuya di media sosial. Namun selebrasi pesilat Hanifan Yudani yang memeluk Jokowi dan Prabowo usai meraih medali emas dari pencak silat Asian Games 2018, menunjukkan Jokowi dan Prabowo tidak ada masalah apapun dan tetap bersatu untuk Indonesia.

Menanggapi momen tersebut, Pengamat Politik M Qodari mengatakan baik pendukung Jokowi maupun Prabowo harusnya tidak perlu lagi 'bertengkar'. "Ngapain bentrokan, wong capres-nya berpelukan," kata Qodari, kepada detikcom, Rabu (29/8).


Menurut Qodari, banyak orang yang menyayangkan pertengkaran antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Pertengkaran pun harusnya tidak perlu lagi terjadi karena kedua tokoh yang akan bertarung di Pilpres 2019 itu telah memperlihatkan kebersamaan.

"Pelukan antara Prabowo dan Jokowi itu membuat orang mengatakan, para pendukungnya buat apa berkelahi dan berantem toh dua-duanya bisa sama-sama bertemu, tertawa, bercanda dan berpelukan," ujar Qodari.


Harapan agar pelukan tersebut dapat menghentikan keributan juga datang dari Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon. Dia berharap pendukung Jokowi dan Prabowo juga dapat mengikuti keakraban antara Jokowi dan Prabowo.

Meski demikian, Fadli memandang negara demokrasi pastinya akan dihiasi perbedaan pendapat. Bagi Fadli, perbedaan pendapat merupakan hal biasa.

"Kalau kita berdebat, tidak ada masalah. Tapi berdebat kita berdebat dengan kepala dingin, berdebat dengan substansi. Kalau kita mengkritik itu bagian demokrasi, tidak ada demokrasi tanpa kritik," ucap Fadli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/8).


Sementara itu, Ketum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menilai pelukan Jokowi dan Prabowo merupakan momen yang menyejukkan. Dia meminta pendukung kedua kubu ikut menurunkan tensi politik, dan berharap seluruh relawan bersaing secara sehat pada Pilpres 2019.

"Seluruh pendukung Jokowi dan Prabowo, sudahlah, kita bersaing secara happy, bersaing secara sehat, bersaing secara menjaga ukhuwah kebersamaan," ujar Cak Imin di Jalan Lorong 27, Koja, Jakarta Utara, Kamis (30/8).


Namun tanggapan sedikit berbeda datang dari Politikus Partai Demokrat Roy Suryo. Meski menilai pelukan antara Jokowi dan Prabowo sebagai momen yang indah, namun Roy mengaku tidak terima bila Asian Games 2018 menjadi panggung pencitraan politik demi kemenangan di Pilpres 2019. Roy juga meminta agar bangsa Indonesia tidak cepat berpuas diri atas prestasi yang diraih dari ajang Asiang Games.

"Ini sekaligus juga warning bagi kita agar jangan cepat puas dan berbangga diri, apalagi jadi jemawa atas hasil Asian Games sekarang, apalagi malah menjadikannya ajang pencitraan politik untuk kepentingan 2019," kata Roy, yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, dalam keterangan tertulis, Kamis (30/8).


Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah bahkan memandang pelukan Jokowi dan Prabowo hanya euforia yang berlangsung sesaat. Keributan dikatakan Fahri merupakan suatu keniscayaan yang akan terjadi, apalagi mendekati Pemilu 2019.

"Sebagai masyarakat demokrasi, jangan pernah bermimpi keributan akan berhenti. Karena demokrasi adalah pertandingan yang terus-menerus, terutama menjelang pemilu," kata Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/8).

"Tidak dalam pemilu pun ada keributan, namanya trias politica. Yudikatif yang independen, eksekutif yang melakukan pembangunan, dan legislatif yang mengawasi. Checks and balances system itu artinya saling mengecek, artinya saling ngeributin," lanjut Fahri.


Meski menilai keributan antara dua kubu di Pilpres 2019 sebagai hal yang wajar, namun Fahri mengingatkan soal rambu-rambu berdemokrasi. Dalam konteks Pemilu 2019, ia mengimbau para pendukung dan orang-orang di sekitar paslon tahu batas. Menurut Fahri, kerap kali keributan justru terjadi bukan berasal dari paslon yang bertarung.

"Pak Prabowo tahu batasnya, Pak Jokowi juga mungkin tahu batasnya. Tapi penonton dan orang-orang di sekitarnya itu nggak tahu batas," tutur Fahri. (nvl/yas)