detikNews
Kamis 30 Agustus 2018, 12:00 WIB

Apa Kata Milenial soal Pilpres 2019?

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Apa Kata Milenial soal Pilpres 2019? Albayat (Elvan Dani Sutrisno/detikcom)
Jakarta -

Banyak pemilih pemula bakal menggunakan hal pilih untuk pertama kalinya di Pemilu 2019. Apa kata para milenial soal pilpres tahun depan?

detikcom kedatangan tamu para milenial yang sedang duduk di bangku SMA Pesantren Unggul Al Bayan dari Sukabumi, Jawa Barat, pada Rabu (29/8/2018) kemarin. Mereka berbagi cerita soal kesan menjelang pemilu perdana pada 19 April 2019.

Abdullah Mushlih, yang kini duduk di kelas XI IPA SMA PU Al Bayan, mengaku masih agak gugup menjelang pilpres. Ia ingin memilih capres terbaik yang bisa menaklukkan korupsi, menurunkan angka kemiskinan, dan membuat Indonesia lebih hebat lagi.

"Saya ingin pendidikan Indonesia lebih bagus, saya ingin Kali Ciliwung bersih dari sampah, dan saya ingin melihat kota penuh pepohonan yang menghilangkan kesan hiruk-pikuk dan membuat suasana teduh," katanya.

"Saya ingin presiden yang mengusut masalah politik, ingin infrastruktur terbangun di seluruh Nusantara. Saya tidak butuh pemimpin yang kerjanya blusukan dan merakyat, biarlah pemimpin saya jarang tersenyum, biarlah jarang terlihat di media selama kerjanya nyata, selama dia cinta Indonesia," kata Abdullah Mushlih, yang ingin pemilu 2019 aman dan tenteram tanpa kecurangan.

Sementara itu, Fadli Nurul Hanif, yang duduk di kelas XII IPA dari sekolah yang sama, menginginkan pemimpin yang bisa menjalankan amanah dengan baik. Bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi utang negara, dan menguatkan rupiah atas dolar AS. Ia juga mengharapkan pemimpin yang fokus pada pembenahan SDM.

"SDM yang lebih baik dan berkualitas bisa bersaing di kancah internasional dan Indonesia lebih dikenal di kancah dunia, serta ditakuti dan disegani negara lain," kata Fadli.

Ia mengharapkan pemimpin yang tak hanya meneruskan, tapi juga mengubah ke arah yang lebih baik. Soal sosok pemimpin, ia berharap Indonesia ke depan dipimpin sosok yang cerdas, gagah, dan amanah.

"Tidak ingkar janji, adil, mengayomi masyarakat, dan membuat Indonesia disegani negara lain, tidak memenjarakan ulama, tak pandai berbohong serta bisa membawa Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju," kata Fadli, yang berharap Pemilu 2019 jadi pemilu terbaik sepanjang sejarah tanpa adanya perpecahan.

Muhammad Husni Abdul Fatah, siswa kelas XII dari sekolah yang sama, mengharapkan pemilu yang sehat dan menjadi ajang kompetisi adu gagasan. Gagasan rupanya dipandang sebagai inspirasi bagi milenial.

"Kami mengharapkan kontestasi gagasan rasional yang bisa diterima semua kalangan, pilpres jadi wadah adu gagasan, bukan sentimen. Maka nilai fundamental darinya ialah uji dengan gagasan bukan sentimen," katanya.

Lalu, bagaimana dengan sosok capres idolanya? Rupanya ia mendambakan capres yang punya ide cemerlang, bisa menyelesaikan masalah-masalah bangsa, seperti pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Capres juga dinilainya harus bersinergi dengan semua pihak, seperti para akademisi, ulama, dan pihak yang bersaing dengannya.

Ketika pemimpin sudah menunaikan janjinya dan menerima semua aspirasi rakyat tanpa kecuali, menurut Husni, pemimpin itu akan mendapatkan perhatian rakyat.

"Contohnya Turki, kalau dilihat dari rekam jejak pemimpinnya, baik sesudah maupun sebelum kudeta, maka terlihat bahwa kepercayaan rakyat yang memimpinnya tinggi sehingga ketika terjadi krisis saat ini rakyat bahu-membahu bersama, bahkan oposisi pun mendukung pemerintah," kata Husni, yang berharap pemilu yang mempersatukan, bukan yang memecah belah.

Muhammad Abdel Haq, yang duduk di kelas XII IPA, mengharapkan pemimpin yang tak hanya merakyat, tapi juga mendengarkan dan menjalankan amanat rakyat.

"Generasi muda mendapatkan lebih banyak perhatian dari pemerintah secara merata mulai dari pendidikan, karena bisa dilihat di berbagai media sosial sedang terjadi dekadensi moral secara besar-besaran. Diperlukan sosok pemimpin yang dapat lebih merangkul pemuda Indonesia," katanya.

Ia berharap presiden ke depan bisa melakukan pembangunan yang merata. Juga lebih mengoptimalkan potensi nasional ketimbang impor.

"Contohnya impor beras terus dilakukan, sedangkan para petani pribumi kebingungan mau dikemanakan berasnya. Mereka merasa dikhianati oleh negaranya sendiri. Padahal Indonesia dengan segala sumber daya alamnya dapat menjadi negara yang mandiri, bahkan jadi negara pemasok kebutuhan negara lainnya,"katanya.

"Sosok pemimpin yang bisa dijadikan panutan saya sebagai generasi milenial adalah sosok yang tegas dan berwibawa, bukan yang lenjeh atau cengengesan sehingga Indonesia bisa dihormati negara-negara lain. Sosok pemimpin yang jujur dan amanah, pemimpin yang bisa menjadi trendsetter yang baik bagai pemuda dan pemimpin yang tidak memenjarakan ulama dan rakyatnya," kata Abdel, yang berharap pemilu berjalan adil, bersih, tanpa kecurangan, dan bebas golput.

"Para pendukung capres agar bersuara dengan baik dan beretika karena tujuan pemilu ini adalah memilih pemimpin yang mempersatukan, bukan memecah belah Indonesia," pungkasnya.


Simak Juga 'Lewat Aksi Moge, Jokowi Mau Buktikan Dekat dengan Milenial':

[Gambas:Video 20detik]


(van/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed