Pasca Tsunami, Wardiah Bisa Kantongi Rp 1 Juta/Hari

Pasca Tsunami, Wardiah Bisa Kantongi Rp 1 Juta/Hari

- detikNews
Selasa, 09 Agu 2005 15:02 WIB
Banda Aceh - Banyak warga yang menderita pasca tsunami di Aceh. Selain kehilangan keluarga, mereka juga kehilangan harta benda. Tapi tak sedikit juga yang mendapat rezeki tambahan. Sebut saja Wardiah (45) seorang ibu dengan enam orang anak. Meski sempat merasakan pahit getir hidup di tenda pengungsian selama tiga bulan, kini Wardiah sudah bisa bernafas lega. "Alhamdulillah, sekarang ini rezeki saya ada saja. Sehingga saya bisa menyekolahkan anak terus," kata dia pada detikcom, Selasa (9/8/2005). Wardiah kini membuka warung yang menjual sembako di kawasan Lhoknga, Aceh Besar. Warung kecil berukuran sekitar 3x2 meter persegi itu didirikannya bersama suaminya ketika mereka menjadi pengungsi di pengungsian Posko 85, Lhoknga, Aceh Besar. Warung itu sendiri terletak di dekat pintu masuk kamp pengungsian yang kini sudah kosong. Dikatakan Wardiah, sebelum tsunami menerjang kampungnya di kawasan Lampaya, Aceh Besar, dia juga menjual berbagai kebutuhan seperti ikan, sayur mayur dan sembako. Tapi karena pembelinya hanya warga sekitar, Wardiah hanya bisa mengantongi sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu perhari. Tapi kini, dia bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar satu juta rupiah per hari."Soalnya pembeli bukan saja orang-orang yang masih bertahan di pengungsian di sekitar sini. Tapi juga orang-orang yang lewat," ujarnya. Maklumlah, di sekitar Lhoknga hingga saat ini masih banyak warga yang mendiami lokasi pengungsian dan barak-barak pengungsian. Merekalah yang saban hari menjadi konsumen warung Wardiah.Dituturkan Wardiah, sehari setelah tsunami, dia hanya punya uang Rp 5 ribu. Uang itu merupakan sisa dari uang yang dimilikinya setelah berbelanja kebutuhan warung di Pasar Aceh pada hari Minggu 26 Desember 2004. Seluruh belanjaan dan isi warungnya waktu itu dia berikan kepada orang-orang yang membutuhkan ketika air mulai surut di sekitar kampungnya. Rumah Wardiah sendiri, meski terjamah air, tapi tidak terlalu tinggi. "Hanya sebatas dengkul, barang-barang jualan masih selamat. Tapi saya sempat berpisah sama suami dan anak-anak karena waktu kejadian saya berada di jalan. Kami berkumpul setelah malam, itu pun ketemunya tak sekaligus, sama anak-anak di sekitar rumah ketika air sudah surut, sama suami ketika saya dan anak-anak mengungsi ke gunung," katanya.Setelah tiga hari kejadian tsunami, mereka kemudian menempati Posko 85 Lhoknga. Di tempat ini, banyak warga yang selamat membawa sepeda motor mereka yang terendam air laut ketika tsunami. Kebetulan suami Wardiah memiliki keahlian memperbaiki sepeda motor. Suami Wardiah kemudian memperbaiki 3 sepeda motor. Dari uang hasil memperbaiki 3 sepeda motor sekitar Rp 150 ribu, suami isteri ini kemudian membuka warung kecil-kecilan di depan tenda mereka. "Karena terus berkembang, kami pindah ke depan sini. Untuk belanja waktu itu kami terpaksa menyewa kereta (sepda motor-Red) orang. Tapi sekarang nggak lagi, karena sudah beli kereta bekas dan dibuat becak sama suami saya," lanjutnya. Lain lagi cerita Reza (35). Warga Banda Aceh ini seperti mendapat durian runtuh. Rumah besar yang biasa ditempatinya bersama isteri, anak dan orang tuanya kini disewa orang salah satu LSM asing. Jika sebelum tsunami, rumah seperti milik keluarganya ini hanya disewa dengan harga Rp 5 juta setahun, kini harus disewa dengan harga yang berkali-kali lipat. Harga sewa yang diterima keluarga Reza mencapai ratusan juta untuk masa penyewaan satu tahun. "Kami sekarang menyewa di rumah kopel dengan dua kamar," aku Reza. Apa yang dilakoni Reza saat ini, banyak juga dilakukan oleh para orang kaya di Banda Aceh yang memiliki rumah dari satu atau juga memiliki rumah besar di kawasan-kawasan strategis. Tak perduli jika kemudian mereka tinggal di kawasan kumuh dan jauh dari keadaan kehidupan mereka semula. "Kalau tidak sekarang kapan lagi kita bisa punya rezeki banyak setelah tsunami ini. Kapan lagi kita bisa kaya," kata salah seorang warga pada detikcom, yang juga menyewakan rumahnya pada salah satu LSM asing. (asy/)


Berita Terkait