Garuda Jamin Penerbangan Normal

Awak Kabin Mengancam Mogok

Garuda Jamin Penerbangan Normal

- detikNews
Senin, 08 Agu 2005 10:04 WIB
Jakarta - Setelah PT KA bernafas lega karena karyawannya urung mogok nasional 8-10 Agustus, kini PT Garuda Indonesia ganti yang ketar-ketir karena ancaman serupa. Tapi Garuda menjamin seluruh penerbangannya tetap berjalan normal.Jaminan Garuda itu disampaikan dalam iklan seperempat halamannya di berbagai media massa cetak, Senin (8/8/2005). "Garuda Indonesia telah melakukan langkah-langkah antisipatif agar seluruh penerbangan Garuda Indonesia tetap berjalan normal," demikian bunyi iklan Garuda yang ditujukan kepada pelanggan, travel agent, mitra usaha, dan masyarakat umumnya.Garuda juga tetap menjamin hak-hak pelanggan atas kenyamanan dan kepastian keberangkatan penerbangan. Maskapai nasional terbesar ini juga mengimbau kepada pelanggan, travel agent, mitra usaha, dan masyarakat umum tidak terpengaruh atas isu yang berkembang dan tetap menggunakan jasa penerbangan Garuda.Seperti diberitakan, awak kabin PT Garuda Indonesia mengancam akan mogok kerja pada 12, 13 dan 14 Agustus 2005 jika tuntutan yang mereka ajukan kepada pihak manajemen tidak dipenuhi.Keputusan mogok kerja itu dilakukan karena gagalnya perundingan antara Ketua Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi) dan pihak manajemen Garuda Indonesia mengenai sejumlah masalah ketenagakerjaan. Ikagi yang beranggotakan 2.347 orang tersebut menilai selama ini terjadi diskriminasi kepegawaian oleh pihak manajemen dengan tidak diperlakukannya perjanjian khusus untuk pekerja awak kabin.Masalah lainnya adalah mengenai lisensi (izin awak kabin), jam kerja yang mencapai 21 jam per hari yang tidak dikategorikan sebagai lembur, cuti tahunan yang tidak sesuai dengan UU Ketenagakerjaan, kewajiban masuk pada hari libur nasional tanpa kompensasi, perlengkapan kerja yang tidak memadai dan utang pembayaran perjalanan dinas di dalam dan luar negeri yang dibayar 10 hingga 20 hari kemudian.Ikagi juga menilai sistem penggajian awak kabin yang masih diskriminatif. Ikagi menyatakan, jika sistem penggajian tersebut diperbaiki maka manajemen cukup menyediakan Rp 24 miliar per tahun untuk mereka.Ikagi juga telah memasang beragam spanduk di pinggir jalanan di Jakarta, mengumumkan rencana mogok mereka. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads