DetikNews
Selasa 21 Agustus 2018, 17:34 WIB

Soal 'Pemimpin Jahat' Mahfud Md, PD: Bisa Diujikan ke Jokowi

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Soal Pemimpin Jahat Mahfud Md, PD: Bisa Diujikan ke Jokowi Ketua DPP Demokrat Jansen Sitindaon (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta - Anggota Dewan Pengarah BPIP Mahfud Md mengimbau masyarakat menggunakan hak pilih di Pilpres 2019 agar orang jahat tak jadi pemimpin. Partai Demokrat yakin pemimpin jahat yang dimaksud bukan Prabowo Subianto.

"Kalau Pak Prabowo saya kira bukan orang jahatnya, itulah," ujar Ketua DPP PD Jansen Sitindaon kepada detikcom, Selasa (21/8/2018).


Jansen mengatakan, jika Prabowo merupakan pemimpin jahat yang dimaksud, Mahfud Md tak akan mendukungnya pada Pilpres 2014. Pada Pilpres 2014, Mahfud Md menjadi ketua tim sukses Prabowo.

"Masak di mata Prof Mahfud 2014 Pak Prabowo orang baik, di 2019 jadi berubah orang jahat. Cepat betul Prof Mahfud ini berubah. Tidak yakin saya yang dimaksud Prof Mahfud itu adalah Pak Prabowo," katanya.

Menurut Jansen, berbicara orang baik atau jahat dalam konteks memimpin negara lebih tepat jika dilontarkan kepada orang yang sudah pernah memimpin negara ini. Misalnya Jokowi.

"Lebih tepat diujikan ke orang yang sudah memimpin negara ini. Dari kebijakannya itulah kita bisa mengukur negara ini jadi lebih baik atau tidak. Harga-harga lebih murah atau tidak. Nilai tukar rupiah tambah gagah atau malah amblas tak berdaya di depan mata uang asing," ujarnya.


"Pertumbuhan ekonomi naik atau tidak. Daya beli masyarakat meningkat atau malah untuk memenuhi kebutuhan pokok saja tambah susah. Semua hal ini belum bisa kita ujikan ke Pak Prabowo. Ke Pak Jokowi bisa. Silakan dirasakan sendiri," lanjut Jansen.

Kendati demikian, Jansen menyarankan agar pada Pilpres 2019 ini tak perlu ada narasi pemimpin jahat atau baik. Menurutnya, baik Jokowi maupun Prabowo merupakan dua orang terbaik untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depannya.

"Tidak membangun dan menghakimi orang namanya ini. Pilihan mana yang akan dipercaya memimpin negeri ini 5 tahun ke depan, marilah sepenuhnya kita serahkan kepada rakyat Indonesia di Pemilu tanggal 17 April 2019 besok. Bagi kami, siapa pun yang terpilih jadi presiden, dialah manusia terbaik bangsa ini pada zamannya," tuturnya.

Terkait imbauan untuk tak golput, Jansen sepakat. Menurutnya, seluruh masyarakat Indonesia yang telah memiliki hak pilih harus memanfaatkan hak pilihnya tersebut.

"Kami Partai Demokrat tentu sangat setuju dengan imbauan Prof Mahfud agar masyarakat kita tidak golput dalam Pemilu 2019 besok. Namanya pesta demokrasi, semakin banyak orang yang datang ke pesta tersebut barulah dapat kita katakan pesta demokrasi itu sukses dan meriah," kata Jansen.


Seperti diketahui, pernyataan Mahfud soal calon pemimpin jahat diutarakan dalam pembekalan bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mahfud meminta tak ada yang tak menggunakan suara di pilpres agar orang jahat tak terpilih.

"Kita memilih ini bukan untuk memilih yang bagus betul, tapi menghindari orang jahat untuk pimpin negara," kata Mahfud.

Buntut pernyataan itu, spanduk 'jangan pilih capres jahat' pun bertebaran di Jakarta. Spanduk itu tersebar di sejumlah JPO di wilayah Jakarta Pusat. Di antaranya di JPO Cempaka Putih dan Kramat Sentiong.
(mae/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed