DetikNews
Selasa 21 Agustus 2018, 16:53 WIB

Soal 'Pemimpin Jahat', Golkar: Insyaallah Bukan Jokowi

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Soal Pemimpin Jahat, Golkar: Insyaallah Bukan Jokowi Wasekjen Golkar M Sarmuji (dok. pribadi)
Jakarta - Partai Golkar meminta polemik pemimpin jahat tak perlu lagi diperpanjang. Sebab, apa yang disampaikan Mahfud Md terkait 'pemimpin jahat' sebelumnya hanya normatif.

"Sebaiknya polemik pemimpin jahat tidak perlu dikembangkan. Toh yang disampaikan Pak Mahfud imbauan normatif saja," ujar Wasekjen Golkar M Sarmuji kepada detikcom, Selasa (21/8/2018).

Sarmuji menilai apa yang disampaikan Mahfud saat pembekalan 750 bakal calon anggota legislatif (bacaleg) PSI pada Senin (20/8) kemarin hanya imbauan umum. Mahfud mengimbau seluruh warga yang sudah memiliki hak pilih bisa berpartisipasi pada Pilpres 2019 agar negara terhindar dari orang jahat sebagai pemimpin.



"Tapi secara khusus Insyaallah bukan Pak Jokowi," katanya.

Lebih lanjut, Sarmuji mengatakan, dalam konteks pilpres, tak seharusnya ada dikotomi jahat atau baik. Yang ada, kata Sarmuji, adalah pemimpin baik dan yang lebih baik.

"Yang absah menilai adalah rakyat yang memiliki kedaulatan," ujar Sarmuji.

"Tidak perlu ada dikotomi jahat lawan baik. Kita memilih yang lebih baik di antara yang baik," imbuhnya.



Seperti diketahui, pernyataan Mahfud soal calon pemimpin jahat diutarakan dalam pembekalan bacaleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mahfud meminta tak ada yang tak menggunakan suara di pilpres agar orang jahat tak terpilih.

"Kita memilih ini bukan untuk memilih yang bagus betul, tapi menghindari orang jahat untuk pimpin negara," kata Mahfud.

Buntut pernyataan itu, spanduk 'jangan pilih capres jahat' pun bertebaran di Jakarta. Spanduk itu tersebar di sejumlah JPO di wilayah Jakarta Pusat. Di antaranya di JPO Cempaka Putih dan Kramat Sentiong.
(mae/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed