Sejak Januari, Delapan Penderita DBD di Palu Meninggal
Minggu, 07 Agu 2005 22:15 WIB
Palu -
Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kota Palu, Sulawesi Tengah, meningkat. Sejak Januari hingga Agustus ini sudah delapan penderita DBD yang meninggal dunia. Sementara daerah endemis sudah mencakup 20 kelurahan di wilayah Palu Timur dan Palu Barat.Menurut dokter Abdullah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, kasus DBD di Palu meningkat dari sekitar 250 kasus pada tahun 2004 menjadi 334 kasus pada tahun ini. Usia Penderita DBD beragam mulai bayi hingga orang-orang dewasa."Ini gejala yang agak aneh, pada beberapa tahun ini DBD tak hanya menyerangan bayi atau anak-anak tapi juga orang-orang dewasa. Makanya kita juga perlu waspada. Dulunya memang DBD lazimnya menyerangan bayi atau anak-anak," ungkap Abdullah.Abdullah, pada detikcom di kediaman keluarganya, di Perumnas Balaroa, Palu Barat, Minggu (7/8/2005), memperkirakan hingga akhir tahun kasus DBD bisa meningkat jadi sekitar 500kasus jika masyarakat tidak memperhatikan sanitasi lingkungan. Meski demikian, pemerintah belum menyatakan Kota Palu sebagai daerah dengan kategori kejadian luar biasa.Abdullah menilai, siklus wabah DBD di Palu tergolong aneh. Semestinya wabah DBD terjadi 5 tahun sekali, namun untuk kasus daerah ini terjadi hanya dalam selang waktu setahun. Pertama kali, daerah ini dilanda wabah yang disebabkan oleh virus dengue itu pada tahun 1998. Saat itu banyak korban yang meninggal dunia. Berdasarkan siklusnya, wabah yang diantarkanoleh nyamuk aedes agepty ini akan kembali menyerang pada tahun 2003, namun ternyata tidak. Wabahnya baru menyerang pada tahun 2004. Saat ini, Dinas Kesehatan Kota Palu telah melakukan upaya-upaya pencegahan di 20 kelurahan endemis itu. Upaya paling awal adalah dengan melakukan fogging atau pengasapan di sejumlah kelurahan. Diskes Palu berharap agar masyarakat lebih proaktif dalam memelihara kebersihan lingkungan. Itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana, semisal menguras bak mandi atau menimbun kaleng-kaleng bekas yang menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk aedes agepty. Kepada penderita DBD dari kalangan keluarga miskin, Abdullah menyampaikan agar tak perlu risau. Sebab biaya pengobatan mereka akan ditanggung oleh pemerintah setempat.
(gtp/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































