Presiden SBY Ternyata Sempat Stres Saat Memimpin Sidang KAA
Minggu, 07 Agu 2005 21:01 WIB
Jakarta - Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika (AA) pada April lalu menyisakan cerita lucu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat mengalami stres saat memimpin sidang karena banyak koleganya, para kepala negara, yang pidatonya ngelantur.Cerita soal 'stresnya' sang RI 1 ini diungkapkan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dalam acara Pembubaran Tugas Panitia Nasional KTT AA dan Peringatan 50 tahun KTT AA di Wisma Negara, Jl. Veteran, Jakarta, Minggu (7/8/2005)."Beliau sempat mengirim coretan pada saya yang isinya 'Saya stress kalau ada kepala negara mulai berbicara melewati alokasi waktu," ujar Wirajuda disambut tawa para hadirin termasuk Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.Menurut Wirajuda, menunjuk pengalamannya dalam dunia diplomasi, memang tidak mudah memimpin sebuah persidangan internasional besar yang diikuti seratusan kepala negara dan kepala pemerintahan. Kecemasan mulai timbul manakala kepala negara atau pemerintahan yang berpidato 30 menit lebih lama dari batas waktu yang ditetapkan. Sebab ini akan mempengaruhi jadwal pelaksanaan rangkaian kegiatan berikutnya.Tapi untungnya, seluruh rangkaian kegiatan KTT AA pada 23-24 April 2005 berlangsung lancar dan tepat waktu. Menurut Wirajuda, ini adalah buah dari kegesitan ratusan petugas liason officer di lapangan dalam memandu para tamu negara."Saya sampaikan terima kasih pada para crew paling junior ini atas kedisiplinan dan kerja keras mereka, sehingga KTT AA dapat berjalan sesuai jadwal. Bahkan bila negara-negara Timur Tengah ingin belajar soal ketepatan waktu, mereka harus ke sini," tambah Wirajuda sambil tersenyum lebar.Untold StoryDi dalam pidatonya, Presiden SBY mengungkapkan untold story dan unwriten documentary selama masa persiapan KTT AA di Jakarta dan Peringatan 50 tahun KTT AA di Bandung. Salah satunya rencana rencana menunda acara ini sehubungan berlangsungnya tanggap darurat bencana tsunami di Aceh dan Nias.Pemerintah tidak ingin bertepatan pada kondisi duka nasional saat itu, justru mengadakan perhelatan akbar yang sedikit banyak mengandung 'kegemerlapan'. Tentu sudah dapat dibayangkan pendapat dari dalam negeri dan para tamu negara nanti.Pada bulan Januari, Presiden bersama Wapres Jusuf Kalla dan Menlu sempat membuat alternatif skenario pelaksanaan KTT akan dimundurkan enam bulan kemudian atau waktu lainnya.Namun akhirnya, disepakati KTT AA tetap dilaksanakan pada April. Tekad inilah yang kemudian diikuti dengan keputusan mempercepat masa tanggap darurat. Kebetulan pula aksi-aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM yang diberlakukan per 1 Maret sudah dapat diatasi."Jadi KTT AA dilaksanakan pada saat yang tepat saat itu. Saya tahu meski ada banyak perdebatan, pertengkaran dan perubahan, tapi dengan adanya rencana awal, keputusan tepat bisa diambil. Untuk itu semua, saya sampaikan banyak terima kasih," papar SBY.
(gtp/)











































