DetikNews
Selasa 21 Agustus 2018, 12:24 WIB

Cek Midi Baca Makna Gempa Lombok Lewat Manuskrip Kuno Abad Ke-18

Agus Setyadi - detikNews
Cek Midi Baca Makna Gempa Lombok Lewat Manuskrip Kuno Abad Ke-18 Foto: Manuskrip kuno koleksi Cek Midi (Agus-detik)
Banda Aceh - Kolektor manuskrip kuno Tarmizi A Hamid atau Cek Midi, membaca gempa Lombok lewat manuskrip yang diterbitkan pada abad ke-18. Lewat manuskrip kuno itu, Cek Midi bisa memprediksi gempa yang terjadi beberapa kali di Lombok ini memiliki makna yang berbeda.

Manuskrip gempa setebal 448 halaman yang ditulis pada kertas abad ke-18 ini menjelaskan secara detail arti gempa. Dalam manuskrip koleksi Cek Midi, makna gempa dikelompokkan berdasarkan bulan Hijriah dan waktu merujuk salat fardu.



Gempa yang mengguncang Lombok dua hari lalu terjadi pada bulan Zulhijah dan masih dalam waktu salat Isya. Cek Midi kemudian membandingkan gempa minggu malam (19/8) itu dengan gempa 7 SR yang terjadi di Lombok pada Minggu 5 Agustus lalu.

Saat itu, gempa terjadi pada bulan Zulkaidah dan di waktu salat magrib. Dalam manuskrip disebutkan, jika terjadi gempa pada bulan Zulkaidah dan waktu Magrib akan banyak orang meninggal di daerah itu.

Cek Midi Baca Makna Gempa Lombok Lewat Manuskrip Kuno Abad ke-18Foto: Manuskrip kuno koleksi Cek Midi (Agus-detik)


"Kemudian ada gempa susulan yang terjadi pada waktu Isya. Dalam kitab manuskrip ini dijelaskan, jika terjadi gempa pada bulan Zulkaidah waktu Isya maka orang dari luar daerah akan berdatangan ke daerah tersebut dengan membawa beras dan berbagai bantuan," kata Cek Midi kepada detikcom, Selasa (21/8/2018).

Menurut pria yang mengoleksi 582 manuskrip kuno ini, kitab tabir gempa yang dikoleksinya tidak diketahui nama pengarangnya. Cek Midi memastikan penulisnya adalah para ahli dan orang yang dekat dengan Illahi. Dalam manuskrip tersebut, terdapat beberapa bab dan ditulis dengan tinta hitam dan merah.



Pada deskripsi umum tentang manuskrip gempa ini, Cek Midi menyebutnya sebagai naskah multi teks di mana di dalamnya mengandung berbagai gaya teks dan pembahasan dengan menggunakan aksara Arab dan Melayu serta Aceh (harah Jawo). Umumnya dalam naskah ini menggunakan khatab naskhi, teks berbentuk prosa dan tulisannya berwarna hitam dan merah, sedangkan alihan kata di bawah halaman verso dan naskah ini sangat lengkap dan utuh.

"Yang perlu saya jelaskan di sini, manuskrip gempa bukan sebagai terjemahan ramalan sesuatu yang akan datang. Ulama tidak meramalkan. Artinya di sini (di manuskrip kuno adalah) catatan masa lalu yang pernah terjadi. Jadi kita lihat apa yang terjadi masa lalu dengan melihat manuskrip," jelas Cek Midi.

"Manuskrip ini ditulis sangat lengkap dan detail, waktunya, bulannya. Jadi kalau tidak pernah terjadi apa-apa pada masa lalu tidak mungkin ditulis manuskrip ini. Manuskrip ini adalah pedoman catatan peristiwa," ungkap Cek Midi.



Cek Midi juga merujuk pada manuskrip, gempa pertama berkekuatan 7 SR yang mengguncang Lombok awal Agustus lalu itu terjadi pada bulan yang sama dengan gempa Aceh pada 26 Desember 2004. Menurut manuskrip itu, Gempa yang terjadi pada bulan Zulkaidah, kebanyakan menimbulkan korban jiwa.

Cek Midi memperkirakan, kitab tabir gempa ini dibuat karena wilayah Indonesia sudah dikepung gempa sejak masa lalu. Menurut Cek Midi, orang zaman dulu sudah memikirkan tentang peringatan dini terhadap bencana, salah satunya dengan membuat bangunan anti gempa.

"Kita harus berusaha untuk waspada dan utuk meminimalkan korban. Jadi dengan adanya rekam jejak sejarah ini kita harus lebih waspada," ungkapnya.


Jalan di Pelabuhan Kayangan Lombok Retak Parah Akibat Gempa, Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]


(rvk/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed