DetikNews
Jumat 17 Agustus 2018, 23:17 WIB

Penghuni Kalibata City Polisikan Pencopotan Bendera Merah-Putih

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Penghuni Kalibata City Polisikan Pencopotan Bendera Merah-Putih Foto: dok. Istimewa
Jakarta - Penghuni Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan melaporkan insiden pencopotan bendera Merah-Putih ke Polda Metro Jaya. Laporan dibuat atas dugaan merendahkan kehormatan bendera negara sesuai pasal 24 Jo pasal 66 UU RI Nomor 24 Tahun 2009.

"Nah di situ perkaranya itu merendahkan kehormatan bendera negara atau pencopotan bendera merah putih," kata Ketua Komunitas Warga Kalibata City, Sandi Edison, Jumat (17/8/2018).

Sandi mengatakan pencopotan bendera merah putih terjadi di Tower Damar lantai 12 CF, Kamis (16/8) sekitar pukul 14.00 WIB. Seorang ibu dari warga bernama Nyimas sedang berada di apartemen tersebut dan didatangi oleh dua orang petugas dari badan pengelola Apartemen Kalibata City.

"Karena dasarnya adalah badan pengelola atau staf dari badan pengelola itu masuk ke unit dari warga, dia posisinya mengetuk terus dia langsung mendahului dari penghuni untuk ke balkon dan melakukan pencopotan bendera tersebut," ujar Sandi.


Ibu yang berusia 70 tahun itu tak terima bendera Merah-Putih yang terpasang di balkon dicopot oleh petugas. Dia kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada anaknya, Nyimas.

"(Ibu) tidak berkenan atas pencopotan tersebut, makanya setelah dari staf pengelola itu keluar ibu dari pemilik atas nama bu Nyimas melaporkan kepada ke Nyimas dan menceritakan bendera yang dicopot oleh badan pengelola," tuturnya.

Setelah itu, Nyimas langsung mengonfirmasi insiden pencopotan bendera itu kepada pihak pengelola. Namun, menurut Sandi, Nyimas tidak mendapatkan alasan yang jelas sehingga terjadi keributan yang kemudian videonya viral di media sosial.

"Langsung lah ibu Nyimas itu turun ke lobby, mengkonfirmasi kenapa alasan apa? Pencopotan bendera Merah-Putih tersebut," ujarnya.

Selanjutnya, pertemuan digelar antara sejumlah pihak mulai dari, pihak pengelola, TNI, polisi dan aparat pemerintah setempat. Dalam pertemuan itu, pihak pengelola menjelaskan insiden tersebut bukanlah pencopotan melainkan penertiban.

"Pada saat itu posisinya tidak terjadinya kesepakatan karena mereka menyatakan ini adalah dalam rangka penertiban atau dalam bahasanya estetika," papar Sandi.

Namun warga tak bisa menerima alasan yang disampaikan oleh pihak pengelola. Menurut Sandi, petugas hanya mencopot bendera Merah-Putih saja sedangkan pakaian yang berada di balkon tak ditertibkan.

"Yang kita tidak terima adalah kalau ini penertiban, perkaranya kan sama-sama benda, bendera benda, terus karpet yang dijemur adalah benda, terus pakaiannya benda, kenapa kalau penertiban mereka tidak menertibkan yang ada di balkon itu jemuran dan sebagainya yang mempunyai potensi jatuh ke bawah. Kenapa mereka tidak tertibkan, kok kenapa bendera yang kekuatan ghirohnya sanga tinggi, kita ingin mengibarkan bendera itu," imbuh dia.


Selain itu, warga juga mempertanyakan kedua petugas masuk ke apartemen ibu dari Nyimas tanpa izin. Padahal, menurut Sandi, apartemen itu merupakan privacy dari setiap warga.

"Kedua, posisinya kok kenapa staf badan pengelola tersebut masuk ke dalam unit tanpa ada surat perintah, kok langsung bisa masuk ke unit, meminta, mengintimadasi pencopotan tersebut, kok bisa tanpa ada izin, ini kan ada masalah memasuki pekarangan orang lain," ujarnya.

Laporan sandi tertuang dengan nomor TBL/4362/VIII/2018/PMJ/Dit.Reskrimum ter tanggal 17 Agustus 2018. Perkara yang dilaporkan adalah merendahkan kehormatan negara atau pencopotan bendera merah putih sebagaimana pasal 24 A jo pasal 66 UU RI No 24 Tahun 2009.

Pihak terlapor dalam laporan ini masih dalam penyelidikan polisi. Sedangkan korban dalam kejadian ini adalah ibu dari warga Kalibata City bernama Nyimas.


Sebelumnya, insiden pencopotan bendera Merah-Putih viral di media sosial. Pihak pengelola juga telah memberikan penjelasan mengenai video tersebut.

Pengelola Apartemen Kalibata City membantah melarang pemasangan bendera Merah-Putih dan mencopot bendera di salah satu unit penghuni. Pengelola hanya menyarankan agar bendera tidak dipasang di balkon dengan alasan tertentu.

"Kami bukan melarang, kan namanya (hunian) vertikal, jangan sampai ada apa pun di balkon untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," jelas Ishak saat dihubungi detikcom, Kamis (16/8).
(knv/aik)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed